Malam minggu
Malam minggu, gue ada di Blue Banter sama temen-temen. Nungguin Anang yang bakal nyanyi di acara ultahan Pacific TV. Tapi acaranya kelamaan, akhirnya kita cabut sebelum Anang manggung, dan ngejar konser Kerispatih-Ungu di Megamas.
Acarnya ternyata kompetisi band gitu dan kita masih harus tunggu beres 18 band manggung, barulah Kerispatih ama Ungunya maju.
Udah super pegal, udah panas, rame abis dan penonton dah bt dan menggila, akhirnya mulai rusuh ngelempar-lempar botol. Botol kosong, botol isi air, ato nggak isi pasir. Jam stengah 11 baru deh Kerispatih keluar. Dan panitia nyiram air.. Whoaaa..
Kerispatih lagi nyanyi, semua penonton ikutan nyanyi, dan disiram air.. Hoah.. Everybody was shouting, all hands were up in the air.. And mine too.. I just wanted to feel the excitement.. Looking up to the sky, saw the ‘rain’ coming down. The crowd, the people, the craziness.. Karena nggak tau kapan lagi bisa begini.. Haha..
Dan gue dapet 1 bungkus rokok gratisan.. I’m gonna save it for souvenir.. :p
Add comment November 8, 2009
2day
Tadi pagi cuma sarapan Super Bubur. Masakan instan favorit baru gue. Udah 2 minggu gue makan makanan instan melulu – super bubur, mie, cemilan, koko crunch, energen, dan super bubur lagi. Entah deh usus gue dah kayak apa. Tapi gue dah berjanji ke diri gue sendiri, mulai besok gue bakal ganti dengan makan makanan alami, dan kalo bisa gue beli buah. Harus dan wajib!
Dan hidup gue di kota Manado ini tinggal 2 minggu lagi. Gue bakal pindah ke pinggiran kota. Tepatnya ke pedesaan, dan gue bakal ‘homestay’ di sana. Untuk ke kota, gue bakal menempuh jarak sekitar setengah jam ngelewatin hutan dan desa… Hohoho… Tapi yang jadi pikiran gue adalah, gue akan meninggalkan orang2 yang baru aja ‘gue dapet’. Entah gue harus bilang apa ke mereka. Karena gue nggak mau matahin semangat mereka. Gue nggak mau mereka berhenti karena gue berhenti. I can’t be your Erin Gruwell. I’m sorry, I’ve made my choice. I’m sorry to disappoint you.
Dasar jelek, gue selalu bikin ending cerita yg ngegantung..
Add comment November 7, 2009
Ekspedisi Gunung Soputan
Gunung Soputan ada di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, yang tingginya sekitar 1700m, berlokasi sekitar 2 jam dari kota Manado. Dan beginilah cerita perjalanannya…
Manado, 1 Okt 09, 19:30.
Udah kumpul, berdoa, dan rame-rame naik di satu bis yang udah disewa (Bis Karombasan-Kawangkoan) seharga Rp.300.000 sampe ke desa Tourae. Perjalanan 28 orang ini bener-bener rame euy. Beberapa dari kita banyak juga yang baru pertama kali ini mendaki gunung. Persiapan tenda cuma 1, selebihnya tikar dan terpal. Cuma mereka yang emang sering hiking yang punya peralatan rada lengkap kayak matras, sleeping bag, sama misting. Selebihnya.. kami serahkan dalam doa… huehehehe…
Sampe di Tourae, kita berdoa lagi, dan jam 22.00 mulai jalan. Perjalanan cuma datar-datar aja, kiri-kanan kebun orang, dan sebenernya bis masih bisa antar sampe kira-kira 300 meter ke dalam. Pemandangan malam lumayan asik dengan bulan yang cukup terang (dikit lagi purnama), dan bintang-bintang yang mulai keliatan. Track mulai mendaki, tapi tetep, cuma jalan biasa.
Memasuki hutan, mulai dalam, mulai tertutup pepohonan, mulai lebih gelap, jalan mulai lebih sempit. Tapi, track tetep mudah untuk pemula. Tapi kadang harus hati-hati karena ada jurang. Ada track sungai juga, tapi enggak begitu tinggi, cuma sebatas mata kaki. Kita jalan di lembah, antara bukit dan bukit. Bau belerang mulai kecium banget, dan lama-lama ilalang tambah tinggi.
Terakhir, kita lewatin satu ujung sungai kecil itu, yang udah dikasih kayu/bambu sama ‘pendahulu’ supaya gampang nampung air. Itu track terakhir yang gampang dilalui, selanjutnya, langsung track nanjak yang lumayan harus pegangan. Naik sekitar 30-40 meter ke atas, dan sampailah di Pepohonan Pinus. Di sana ada satu tempat datar agak luas yang jadi basecamp kita untuk istirahat. Jam 2 pagi kita sampai di sana.
Bukit Soputan, 1 Okt, 04:00.
Temen-temen pada kedinginan, gue pun gak bisa tidur. Huahaha. Sumpeh, dingin juga ternyata. Gue tidur di hammock. Matras gue pinjemin ke Kak Reps, Sleeping bag gue pinjemin ke Tika, dan gue yang sok baik hati itu tidur pake 3 lapis (baju, sweater, jaket) plus sarung. Tapi gue tetep menggigil gila. Dalam hati gue, gue teriak… “I NEED MY SLEEPING BAG!!!!”.. hahaha..
Akhirnya tiga temen yang bener-bener gak bisa tidur karena kedinginan (salah kostum), minta dipasangin api unggun. Ikutan lah gue.. hehe..
Jam 5 pagi di Soputan, udah mulai terang benderang… hmm… tempat yang aneh.. haha..
(bersambung)
Add comment November 3, 2009
Tiga Bulan
Ternyata, tiga bulan adalah lamanya waktu (seenggaknya buat gue) untuk berhasil beradapatasi, bersosialisasi, dan menerima keadaan.
Menjelang bulan kedua gue di Manado sini, tempat kerja gue ini, dengan segala yang terjadi dan segala yang udah gue lihat di sini, gue ngerasa ‘this is not my place’. ‘I’ve gotta get out of here fast’. Tapi menjelang bulan ketiga, yang muncul tuh rasa untuk menolong… (halah). Karena di sinilah tempat gue bisa menolong, di sinilah tempat akhirnya gue bisa berbagi, berbuat sesuatu, dan membangun… (sekali lagi — halaah)…
Tempat di mana gue akhirnya ngerasa ‘Wow, gue kepake di sini.’
Mereka… mahasiswa yang penuh jiwa untuk merasakan, melihat, dan mendengar dunia lebih luas lagi.
Tapi… semua ini bakalan jadi omong kosong lagi. Just like I did three months ago.
Guys, I love you.
I really love you all.
I know I’m breaking your hearts.
I know Sorry seems to be the hardest word.
Jeez… I’m really sorry.
*tears (beneran)
Be brave
Be great
Spread your wings
You’re young, you’re smart
You can do anything
Just believe in yourselves
Hidup Mahasiswa!
Add comment November 3, 2009
JoeDirt
Jadi inget film Joe Dirt. Dia dengan segala kehidupannya yang aneh itu.. :p Dia selalu ketemu sama orang baik dan gak terlupakan.
Dalam kesendirian kita, dalam keadaan yang gimanaaaa gitu… rasanya kata-kata temen yang bikin nyaman tuh berasa sakti banget, biarpun kayaknya biasa aja… Kayak tadi, temen kost gue bilang, “Kalo di kosan, jangan menderita sendirian aja ya (wekwekwek)… kalo ada apa-apa bilang aja. Kalo perlu bantuan, bilang aja. Nggak apa-apa kok…”
Lagi bermaksud lebai dan hiperbola. Tapi bener banget kata-kata temen-temen gue ini. Di saat kayak ginilah karakter kita jadi lebih kebentuk lagi biar jadi lebih dewasa dan bijaksana (Amin)….
D2 said: someday you’ll meet someone who really sees you (thanks, D)
DaMez said: dari sinilah loe akan jadi lebih dewasa. dan suatu saat nanti, loe yang bakal gantian menasehati orang, bukan lagi dinasehati… (mantap, meee!!
)
Jo said: ini saatnya loe lagi diuji (halah).. Kalo loe dah ‘lulus’, kedepannya bakalan gampang. Nggak usah takut, inget aja Tuhan itu segalanya. Biarpun kita takut sama sesuatu, tapi inget Tuhan… Dia itu yang punya kuasa… (kata-kata loe tuh Jo…!!! :p )
M said: Be like Joseph.
P said: *banyak banget
Pu said: Emang ini waktunya kita buat belajar survive..
Yep, you’re so right. Just like the book said, when you get stuck in this cruel life… you just need to shut up, stop whining, and get a life! Haha… Karena emang inilah hidup. Hidup ini memang tentang jatuh dan bangun. Tentang pusing karena dipegatin pacar, tentang ‘down’ karena dimaki orang, tentang ribet karena banyak utang, tentang stress karena kerjaan yang dikejar deadline dan masih ditekan sama boss lagi, tentang ngejar pesawat terbang yang tinggal 10 menit lagi take off, tentang salah masuk jurusan kuliah, dan tentang bete karena nggak pernah kepanggil audisi The Amazin Race.
Sama kayak kata-kata om Edie waktu lagi kemping: “Kenapa kita pengen menderita ke hutan, ikutan kemping, sedangkan kita punya rumah yang udah ada sofa? Supaya waktu kita pulang, kita berasa lebih enjoy menikmati hidup ini…”
… dengan hati penuh syukur.
Add comment October 26, 2009
Damn it, Jay
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz…
wala wala wala wala
bala bala bala bala
gue gila gue gila gue gila
haha haha haha
I will quit and I know I will disappoint you
I’m your angel but can’t comfort you
I love you but not as deep as you do
But I’m a friend and promise will never leave you
Add comment October 25, 2009
okey dey
gue udah di sini
kata gue, “see the world”
kata logika, “look forward”
kata orang,”why not?”
kata dia, “wait and go home”
kata hati, “just do it”
Add comment October 21, 2009
Wekwekwek
Jam 5 pagi gue bangun. Langsung cuci muka, ambil jaket ijo, langsung cabut ke pantai yang jaraknya kira-kira cuma 15 menit dari kost. Di sini, jam 5 juga udah mulai terang. Gue ke tempat yang dari dulu pengen gue tongkrongin. Di belakang Hypermart, di deket parkiran kapal. Di sana ada bebatuan yang lebih ke laut lagi… dan akhirnya hari ini tercapai juga gue ‘bertapa’ di sana. Ngeliatin laut yang super tenang, air jernih dan ikan-ikan warna putih garis-garis hitam lewat bergerombol, dan suara musik yang super gede volumenya dari mobil anak-anak yang nongkrong deket situ.
Really nice. Enaknya duduk di pinggir pantai sendirian… cari inspirasi… halah…
Beberapa puluh menit kemudian lagi gue berada di angkot mau pulang ke kost. Dan entah kenapa tiba-tiba gue jadi mellow…
Gue ada di angkot biru, tapi bukan di daerah Cibinong. Gue ada di kota kecil, tapi bukan Bogor. Gue mau pulang, tapi bukan ke rumah. Dan nanti sampe di rumah, gue gak bakal ketemu nyokap, bokap, ato kakak gue yang sering rese itu… When the tears come streaming down your face… lagu Fix You. Huahahaha…
Homesick. Pengen pulang sebentar aja… Cuma pengen buka pintu pagar rumah, masuk pintu rumah, langsung duduk di depan TV, nonton AXN, ato ke komputer buat online. Ato ke kamar, langsung sare… Gue rindu dengan isi lemari baju gue beserta pajangan2nya… Terus ke dapur, cek kulkas, cek makanan. Dan malemnya tidur di sofa depan TV… Huahahahaha!!!!! Andai pintu ajaib Doraemon ada beneran… :p
Add comment October 18, 2009
Sekilas Manado
Memang, tadinya gue meremehkan.
Gue orang Jakarta, dan berencana mau pindah ke Manado. Dua hal yang gue sering denger tentang Manado itu, pertama, orangnya kebanyakan gaya, dan kedua, Manado itu kota yang mahal. Yang ada di pikiran gue, orang Jakarta juga banyak gayanya, dan semahal-mahalnya kota di Indonesia, mahal mana sih sama Jakarta? Ato seenggaknya sama lah biaya hidupnya… Tetapiiiii….
Manado ini adalah salah satu kota kecil yang berpotensi besar karena orang-orang mengharapkan sesuatu yang besar dari kota ini. Salah satunya karena ada Pulau Bunaken dan Manado itu salah satu kota besar di Indonesia. Ada satu jalan besar di Manado yang panjang dari ujung ke ujung, namanya jalan Boulevard. Sepanjang pinggir jalan Boulevard itu berdiri mall-mall terbaik kota Manado beserta ruko-rukonya. Pokoknya cuma mall dan ruko. Ada Mega Mall, ada Manado Town Square, ada Bahu Mall, dan ruko-ruko tambahan di setiap kompleksnya. Beberapa tahun lalu, Boulevard ini sebenernya adalah laut. Tapi ditambahin tanah sama pemkotnya, trus dijadiin jalan besar, dan bahkan sampe ada Mall… Sekitar 100-150 meter ke arah laut. Gila, tapi.. bener udah jadi. Jadi, di kota ini udah nggak ada yang namanya pantai lagi. Udah direklamasi. Jadinya ujung-ujung dataran Mall-mall tadi dibatasin sama batu-batuan besar untuk misahin laut sama kota.
Udara kota Manado ini panas banget. Mataharinya kerasa terik banget, dan beneran bikin keringet sampe keringetan banget. Tipe panas yang ‘nggak banget’ deh. Kalau nggak dapet tempat kerja atau sekolah yang gak berAC, bakalan kesiksa banget.
Listrik di kota ini fully supported by the Tondano Lake. PLTA soal’e. Tapi itu jadi kekurangan kota ini. Waktu musim kering, jadi sering mati lampu.
Nah, kalo kehidupan orang-orangnya juga rada unik. Mereka demen yang namanya shopping, shopping, dan shopping. Gosh… Gak pernah gue liat orang-orang sebanyak ini gila shopping. Mereka sangat konsumtif, tapi nggak produktif <—- tu peribahasa gue buat mereka. Keliatan banget waktu lebaran kemaren. Wuaaah, liburan dan yang lagi diskon sampe 70an%… Selama seminggu, semua mall ramai banget didatangin orang-orang. Dan hampir semua pulang dengan rata-rata 2 jinjingan.
Kehidupan hari Minggu di sini sangat sepi. Karena kebanyakan orang Kristen, banyak yang tutup toko-toko mereka full sehari. Ngejadiin ni kota mati kalo hari Minggu. Bahkan warung makan sekalipun. Paraaaaah (sampe tadi pagi gue kebingungan mo nyari nasi putih di mana).
Akomodasi
Nah, soal biaya hidup… di sini emang butuh duit banyak. Untuk kost, minimal 300.000, ini harga untuk tempat yang ‘manusiawi’. Tapi cuma kamar kosong, nggak dikasih kasur, tempat tidur, lemari, meja. Tapi tadi gue liat kost, ada juga yang harga Rp. 350.000 udah termasuk tempat tidur sama meja. Biasanya, kalo mau kost yang enak udah isinya (tempat tidur, lemari, meja), mulai dari harga Rp. 500.000 ke atas, dan udah di daerah tengah kota (Sam Ratulangi, Boulevard). Kalo kamar mandi dalam bisa Rp. 600.000 ke atas, dan kalo pake AC bisa Rp. 1.000.000 ke atas.
Transportasi
Standar. Rp. 2000, per sekali naik angkot. Dan biasanya dari sono ke sini bisa cuma sekali naik angkot doang, karena Manado tuh nggak gede-gede amat kotanya. Ke Airmadidi aja cuma Rp. 3500, dari terminal Pal 2.
Konsumsi
Ini dia bahan pembicaraan paling hot kalo pertama kali tinggal di Manado. Minimal makan di warung bisa Rp. 10.000,- Belum sama minumannya. Pertama kali ngekost, dan malam pertama cari makanan, gue nyari warung, dan mereka jual nasi goreng. Ternyata harganya Rp. 12.000,- Karena sakit hati, akhirnya besok malamnya gue langsung ke Solaria yang harganya nggak jauh beda. Jadi, dalam sehari, siapkan budget minimal Rp. 50.000 untuk 3 kali makan (udah bawa Aqua sendiri :p ).
Jadi, lebih baik masak sendiri di kosan. Orang-orang sini biasanya beli bahan-bahan makanan di hypermart atau Multimart. Harga di multimart nggak jauh beda sama yang di pasar. Tapi dengan masak sendiri di kosan juga harus tambah budget untuk beli peralatan masak sendiri (panci, wajan, codet, talenan, minyak tanah untuk kompor minyak, juga piring, sendok, garpu). Ada kosan yang nyediain kompor minyak, tapi biasanya orang-orang kosan punya kompor minyak sendiri. Tapi tetep, peralatannya harus beli lagi. Oh iya, wajib juga punya rice cooker, karena hari Minggu, warung-warung makan juga rata-rata tutup.
Komunikasi
Rata-rata orang sini pake kartu Simpati.
Warnet di sini mahal euy perjamnya.
Harga pulsa tinggal tambah 2000 dari pulsa yang mo dibeli. Misalnya beli Rp. 5000, dijual Rp. 7000.
Itu deh sekilas tentang kota Manado, bisa diperkirakan sebelum dateng ke sini perlu budget berapa untuk kost. Pada intinya buat gue, hidup di sini agak sulit, dengan gaji yang rata-rata juga nggak sesuai sama biaya hidup.
Tapi, bersyukurlah kalian yang udah kerja di Manado tapi penghasilannya sesuai dengan minimal kebutuhan hidupnya. Semua jadi nggak masalah. Hehehe…
Add comment October 11, 2009
Manado: Tur Danau
Manado. Satu kota penuh sejuta aksi para penduduknya. Tahun ini (thank God) gue udah pergi ke berbagai tempat, berbagai kota, dan selain Bangkok, kota Manado adalah satu kota yang bikin gue lumayan shock dengan tradisi dan kebiasaan mereka, juga dengan udaranya.
Perjalanan kali ini ke dua danau yang ada di sini. Sebenernya bukan di Manadonya, tapi di Minahasa. Perginya naik motor bareng temen.
Danau Linow
Perjalanan ke Danau Linow sekitar 1 jam dari kota Manado. Pokoknya ke arah kota Tomohon, terus-terus lagi, tanya-tanya orang aja Danau Linow ada di mana. Danau ini ada di satu desa setelah Tomohon, jalan masuknya ada di sebelah kiri jalan. Untuk motor, HTMnya kalo gak salah Rp. 5.000,- Cuma bayar kendaraannya aja, bayar ‘turis’ per orangnya nggak perlu lagi. Di danau ini ada tempat menginap, dan kalau nggak nginap ada juga tempat nongkrongnya, satu gazebo kecil yang langsung menghadap ke danau.
Gue sama temen gue nongkrong di pinggir danau sambil cerita-cerita, berbagi kisah hidup (halah), menghkhayal, sharing, dan cari inspirasi… entah kenapa gue jadi suka kegiatan itu… :p enak aja, menenangkan diri dari kesibukan dan kegilaan kegiatan sehari-hari, hihihi…
Danau Tondano
Di dekat sini ada satu jalan, yang mereka bilang Boulevard-nya Tondano. Jalan ini satu jalan panjang di tengah-tengah sawah, dan berjejer warung-warung makan khas Manado sama Milu (jagung). Harganya standar Manado, tapi buat orang pendatang udah termasuk agak mahal. Ikan cakalang sepenggalnya bisa Rp. 4000,- Terus ada satu ikan Rp. 30.000,- satu ikannya, itu emang ikan yang jarang gitu, cuma ada di Danau Tondano. Tapi, asiknya, makan dengan pemandangan hamparan sawah dengan udara sejuk bikin betah duduk di situ.
Setelah makan, kita menuju Danau Tondano, tapi kita berhenti dulu di jalanan Boulevard itu dan foto-foto dengan pemandangan sawahnya. Bagus loh… waktu itu kita ambil foto sore-sore, menjelang jam setengah 5an, cahaya sorenya asik, gak silau, dan hasil foto juga jadi bagus. Recommended (tapi kebetulan gue foto cuma pake HP, jadi yaaa.. hasilnya gitu deh :p)
Before you go to Tondano Lake, visit the Boulevard St. near the lake. They sell Manadonese food and Milu (corn). Don’t forget to take pictures with the rice field scenery… I took some pictures around 4.30pm (september), the sun light was great and good weather, too.
Add comment October 11, 2009



