Posts filed under ‘travel’
Downtown Atlanta
1. Georgia Dome, GWCC & Phillips Arena
Senayan-nya Atlanta. Di Georgia Dome ada lapangan Football-nya Atlanta. GWCC itu convention centernya dan Phillips Arena itu… gue nggak terlalu tau. Haha… Semuanya ini ada di tengah kota dan cuma turun sekali dari Five Points Marta Station ke arah barat. Tiga gedung GWCC panjang dari ujung Building A ke Building C, di mana exhibition hall-nya ada di Building C. Yang paling asik di sini, WCnya tersedia sangat cukup (gue nggak pernah ngantri) dan tissuenya nggak pernah habis.
Naik train dari mana saja, turun di Five Points, ganti train ke arah H. E. Hamilton (Westbound), turun di Georgia Dome Station. Kecuali naik dari Eastbound, nggak usah ganti kereta di Five Points. Langsung lanjut aja karena satu arah.
2. Government Walk
Kalo mo ngeliat gimana gedung-gedung pemerintahannya Atlanta di sini tempatnya. Secara arsitektur, gedungnya rata-rata aja dan nggak semenarik di Putra Jaya, Malaysia. Tapi karena rapi, bersih, gak banyak mobil (jadi gak banyak polusi) dan lumayan berpohon… jadinya keliatan bagus aja. Gedung yang paling menarik juga cuma Georgia State Buildingnya aja yang menang sama atap kubah emasnya. That’s all, nothing else. Oh, ada satu lagi yang menarik… ada jualan buah-buahan di truk. Dan buah-buahnya juga masih segar-segar banget. Jadi, waktu gue ke sana jam 11 siang dan beli buah… kerasa segar banget.
Untuk ke sini cuma beda satu stasiun ke arah Eastbound dari Five Points. Turun di Georgia State dan tinggal jalan kaki kelilingin Government Walk.
3. Underground
Tempat tongkrongan asik dan belanja barang murah. Buat turis, sebenernya tempat ini rada-rada serem karena terlalu.. apa yah, bahasanya…? Street banget dah. Atlanta itu kebanyakan orang-orang item dan di sini tempat nongkrongnya mereka. Bukannya bilang orang-orang item itu serem-serem, hehe, tapi kadang ngeliat mereka yang berbadan gede-gede, dengan gaya street-nya itu, apalagi kalo mereka banyakan… takut aja… entah mengapa. Nyokap gue juga ngerasain hal yang sama. Haha. Mungkin kemakan film aja… (emangnya ada apa dengan film dan orang item?).
Tapi kalo nggak diliat dari sisi itu, tempat inil lumayan keren. Kayak Bukit Bintang-nya KL, kayak Blok-Mnya Jakarta, Chinatown-nya Singapore dan MBKnya Bangkok. Bisa window shopping toko-toko sepanjang pinggir jalannya. Dan kalo malem, lampu-lampunya juga lumayan keren. Lokasi utamanya tentu aja ada di Underground. Mulai dari toko-toko baju (dari seharga US$9), sepatu, booth-booth gelang, jam tangan, bungkus HP, foto dengan background gambar-gambar Atlanta, sampe peramal juga ada. Di ‘upper ground’ ada Haagen Dasz. Jadi kalo udah kepanasan dan capek bisa istirahat dulu ngadem di situ sambil makan es krim. Satu cup paling kecil (yang mana buat gue udah banyak banget) harganya US$ 4,5.
Ke Underground sini emang paling gampang, soalnya dari stasiun kereta mana aja tinggal turun di Five Points (di mana semua kereta pasti ‘parkir’ bentar di sini). Ambil exit yang ke Underground.
4. Woodruff Art Center
Mungkin bagi beberapa orang, datengin museum nggak terlalu penting kalo lagi jalan-jalan… Tapi museum seni yang satu ini koleksi-koleksinya lumayan muantap dan gak rugi bayar US$18. Gue mulai dari Sculpture and Painting sections. Buat gue yang nggak terlalu ngerti seni patung sih biasa aja. Ngeliat patung-patungnya keinget film Night at the Museum. Ngeliat lukisan-lukisannya keinget film Harry Potter. Berharap semua benda-benda itu nggak ada yang tiba-tiba ngedip ato bergerak ato bicara. Hahahaha…!!!
Bagian pameran yang paling menarik buat gue itu di koleksi seni kontemporer. Banyak benda-benda seni yang terbuat dari benda-benda yang nggak bakal terpikir oleh kita ‘rakyat biasa’. Bisa dari sampah, seng, ato apa aja. Yang pasti sih, kalo diliat dari jauh bagus tapi lebih unik dan mengherankan lagi kalo diliat dari dekat.
Para penjaga museumnya juga ramah-ramah dan asik diajakin diskusi tentang seni yang dipajang. Gue diajak ngobrol sama satu penjaga museum waktu gue lagi kebingungan mengartikan satu seni abstrak yang paling gede di gedung itu. Katanya sih lukisannya tentang naga, tapi gue nggak ngeliat naga sama sekali. Gue malah ngeliat banyak hal, kayak rasi bintang, ato layar susunan penerbangan pesawat, ato gelombang air laut, peta, ato langit. Kayaknya banyak banget yang mau ditumpahkan di situ sama si pembuat seninya. The great thing is… Dia berhasil banget buat satu karya abstrak karena orang-orang bener-bener ngeliat lukisan itu dari sudut pandang yang beda-beda banget. Termasuk si penjaga museum.
Cara ke sininya gampang. Dari Five Points ambil kereta North-East bound ke arah Doraville dan turun di Art Center.
5. CNN Center
Pusatnya CNN sedunia dan gedungnya biasa aja dari luar. Tapi di dalamnya… rameeeeeee pisan. Soalnya di lantai bawahnya itu food court. Jadi orang-orang dari mana aja pada makan di situ. Ada 55 menit tour kalo mo liat dalamnya CNN, siarannya, dll. Tapi kayaknya agak mahal, jadinya, di food courtnya aja udah cukup kok. Haha.
Semua tempat-tempat ini kalo mo dikunjungi dalam satu hari sih gue rasa bisa. Beli aja tiket 1 hari, cuma bayar 8 dolar.
25 dollars
Barusan ngikut festival yang ternyata cuma rame di brosur doang. Ini nih baru namanya ‘i really shouldn’t judge the book by its cover’. Trus pas pulang, nggak dapet shuttle ke hotel. Udah ujan-ujanan, basah-basahan, kaki pegel banget jalan seharian, dan pas nelpon ke hotel minta di jemput, receptionnya bener-bener nggak jelas dan sangat tidak memegang teguh prinsip ‘customer service’ yang baik. Baru ngomong sepatah – dua patah kata, telepon gue langsung ditutup. Gue coba sampe tiga kali, begitu terus, katanya sih suara gue nggak jelas dan nggak kedengeran, sampe akhirnya Quarter Dollar gue abis dan gak bisa nelpon lagi. Saking sebelnya, akhirnya kita nguji keberuntungan aja. Kita nungguin tu free shuttle di tempat parkir shuttle ke hotel area airport. Nunggu 15 menit nggak dateng-dateng, padahal udah puluhan hotel shuttle lain udah bolak-balik jemput penumpang. Nyokap bete, gue capek.
Tapi nyokap tipe orang pantang menyerah. Dia ngajakin gue nelpon lagi biar kita bisa dijemput. Tapi ternyata gue tipe orang menyerah. Karena gue tahu telepon umumnya agak jauh, dan kita udah kehabisan koin (yang artinya kita harus tuker uang dulu)… Jadilah gue kayak anak kecil yang minta dibeliin permen ama emaknya. Gue ngeliat sederetan taksi lagi ngantri cari penumpang, jadi gue minta naik taksi aja.
Taksinya seukuran sedikit lebih kecil dari Avanza, dan yang nyupir orang item. Gue tunjukkin kartu nama hotelnya, dan dia setuju nganterin kita ke sana. Gue tanya kira-kira berapaan, dia bilang palingan 14 dolar. Okeh… Lanjutlah kita dengan taksi. Kaki gue udah aman karena nggak jalan lagi, tapi hati gue nggak berasa nyaman gara-gara kayaknya gue tau dia sebenernya nggak tau jalan (ato nggak tahu hotelnya).
And yes, he drove us to the wrong hotel. It’s the same hotel but in the wrong street. Damn. Akhirnya dia nelpon ke hotelnya nanyain lokasinya di sebelah mana. Mata gue selalu ada di argo. Takut-takut sampe ngelewatin 20 dolar. Karena salah jalan itu, kita keluar lagi ke Highway, dan di sana si driver jalan lambaaaat banget. Najong dah. Dan gue sadari ternyata argo di Amrik ternyata nggak kayak di Indonesia yang naiknya berdasarkan kilometer. Di Amrik tuh kayaknya berdasarkan menit. Sial bener. Pantesan dia lambatin jalannya. Bukannya nggak mau protes, tapi dari tadi kita udah banyak ngomel ke dia dan dia juga rese banget ngejawabnya. Paling parahnya, di highway situ dia nge-drive sambil nelpon. Pembicaraannya juga parah, berantem ama orang…. Hahaha… Crazy!
Singkat cerita, kita turun dengan bayar 21 dolar untuk taksi, dan 4 dolar buat biaya dia nelpon ke hotel. Total payment: 25 dolar.
Yeah, shit happens everyday.
Di setiap perjalanan, pasti aja ada pengalaman tak terlupakan (baik atopun buruk). Kali ini gue ama nyokap lagi dapet bagian buruknya. Tapi semuanya itu tentu aja bikin kita ‘melek’ dan jadi lebih gimana cara ngatasin masalah itu… ciyeh.
5 Airports in 28 Hours
It takes a total of 28 hours to get to Atlanta, Georgia, from Jakarta, Indonesia. Five hours flight to Taipei plus three hours transit to continue another eleven hours flight to Los Angeles. Add three more hours waiting in Los Angeles to get a total of 5 hours flight to Atlanta plus 1 hour transit in Houston.
USA is a very hard country to get in. It takes around 7 minutes for me and mum to pass the very last immigration check at LAX. He took our pictures and scan our four right fingers. My mum’s hearing is not so good anymore, so she was a little bit confused about what he was asking. The plain-expression Asian guy who talks and writes in slow motion thought that mum was nervous to do that immigration process… Urgh… felt like I want to punch him on the face. He was really vicious and I think he’s never took the Customer Service Training… Hahaha.
The very last flight I took was to Atlanta. I was flying with Continental Airlines. They provide self check-in in LAX airport. They installed around 15 to 20 computers that connected to umm.. (Continental connection, of course), so that the passengers could check-in by themselves. The one I was flying with after transit in Houston was a very small plane (for me) because it only has three seats from left to right. The ones on the left are seperated by the isle.
I arrived in Atlanta at 10.30 in the morning, then went to the information center. The reception staff was a very old lady but she was very nice. After a long conversation with her, talking about the places of interests in Atlanta, she asked me about my original. “I’m Indonesian.” “Oh. You learned English at school?” She asked me.
“Yes, ma’am.” I answered.
“Wow…!” Suddenly her collegue shouted not very loud. “Your English is very good. You must be proud of yourself.” She said.
Why is that? I asked myself in silence.
“Because your English is like … you are born American.” She admitted it seriously.
“Wow. Thank you very much.”
Haha… I was really flattered. When I left them, I couldn’t stop smiling.
Our main purpose to visit Atlanta is to attend the world congress of our church. There would be so many people from all over the world. Below are my first shots at the Georgia World Congress Center.
Packing Again
Pada suatu malam, tujuh tahun lalu…
Gue, kakak gue, Kiki sama Laura sama sekali nggak nyangka kalo setelah itu kita nggak bakal ketemuan lagi for the next seven years. Kita berpisah begitu aja, tanpa tahu kalo saat itu sebenernya kesempatan terakhir untuk ‘say goodbye’ ato pelukan karena kita nggak bakal barengan lagi.
Now I’m packing for my next trip to visit them. Aaah, it feels so great to meet people you love that you haven’t met them for years. For years!
One big bag, one laptop bag. That’s all I need.
Eksplor Pantai Manado
Punya banyak waktu tapi gak tau mau ngapain ato ke mana. Akhirnya nekat ke tempat yang belom pernah gue datengin, dan jadilah gue menelusuri pantai Manado pake ojek.
Naik angkot ke Malalayang sampe di terminal, pindah ngojek dari situ juga. Tujuan pertama gue sih mo nongkrong di Pantai Buloh, tapi gue juga nggak inget-inget banget tempatnya. Tapi karena gue udah ke pernah ke sana, gue minta dianterin ke pantai mana aja yang penting ada pasirnya, nggak cuma batu-batu doang kayak di Boulevard
Jadilah si abang ojek guide gue hunting pantai pasir.
Jalan ke arah Malalayang, Tateli ampe Tasik Ria emang asiknya pake motor. Udaranya asik banget dan jalanannya bagus dan lancar! Kalo bawa mobil, pasti asik ngebut. Hehe… Di sebelah kanan udah pemandangan laut biru bersih, bakau, batu-batu dan sedikit pasir. Ada restoran-restoran sama diving center juga. Kalo di sebelah kiri, banyak jualan duku murah-murah karena dari kebun sendiri. Akhirnya gue beli duku Rp. 5000 dapet sekantong plastik penuh, banyak banget. Dan ini foto-fotonya…
Ternyata hasil hunting pantai pasir gue berakhir gagal karena nggak dapet pantai pasir. Cuma di Tasik Ria aja, dan itupun nggak luas. Tapi, semua pemandangannya tetep bagus dengan laut biru yang bersih.
Pantai Molas
Mengingat tujuan utama ke Manado; Explore My Hometown (halah), beberapa hari lalu gue ngikut temen gue yang mo ‘mantai’ di Molas. Pulang gawe langsung cabut ke rumah temen gue di daerah Molas, trus bikin dabu-dabu di sana. Wuih… makan dabu-dabu buatan orang Manado asli. Yoi dong… Yang pasti cabenya buanyak. Ditumbuk sama bumbu-bumbu lain, dan pergilah kita ke pantai yang tinggal jalan doang.
Kita janjian sama temen lain, dan mereka dah bawa ikan sama ubi untuk dibakar, terus ternyata dia juga beli pisang goreng ama tahu. Haduh, mantap!!!
Pantai di Manado apalagi di Kecamatan Bunaken sih emang gak bisa diharepin, coz hutan bakau. Tapi di sini lumayan ada pasir tapi berkarang. Setelah sunset, kita bakar-bakar ikan sama ubi. Muantaaapz. Dimakan pake dabu-dabu sama rica sisa pisang goreng. Muantaaaapzzz!!!! I love it. Hahaha…
Kampung Halaman
Setelah lebih dari 12 tahun, akhirnya gue dapet kesempatan ngeliat kampung halaman gue. Hijau dan Biru. Hijau sawah dan biru langit. So damn beautiful.
Sekilas Manado (Part 2)
Di tulisan Sekilas Manado gue sebelumnya, gue mengesankan kehidupan kota Manado yang mahal dan ‘nggak banget’. Dan sekarang, gue mau cerita sisi lain kota Manado seperti yang sudah gue jalani hampir 3 bulan ini.
Gue pindah dari kota Manado ke pinggiran kota yang jaraknya satu setengah jam versi angkot Manado, tapi gue yakin cuma 20-30 menit versi orang yang pegang SIM Jakarta :p Gue tinggal di Kecamatan Bunaken, di salah satu ujung pulau Sulawesi bagian Utara. Ke Pulau Bunaken juga tinggal nyeberang sekitar 15 menit aja. Jadi, kecamatan ini terdiri dari beberapa kelurahan… atau bisa dibilang kampung. Penduduk-penduduk di sini rata-rata saling mengenal satu sama lain biarpun kampung mereka berjauhan.
Ya, emang kecamatan ini bukan tempat orang kerja… secara kampung gitu loh. Tapi ada banyak orang yang kost di sekitar sini karena mereka (termasuk gue) kerja di hotel, resort, atau diving center terdekat. Dan informasi yang bisa gue berikan:
Akomodasi:
Super duper murah (kayak lagi Sale di Matahari aje) harga per kamar per bulannya. Bisa dapet dari Rp. 100.000,- sampe Rp. 350.000,- Harga-harganya bervariasi dengan fasilitas yang udah disediain. Kalo kost gue yang Rp. 350.000,- udah dapet kasur (spring bed bo), meja (tapi gak dapet lemari), kamarnya lumayan besar dan yang paling mantap — makan pagi dan malam. Yoi gak tuh.
Patut dipertimbangkan kalo anda-anda ini lagi dapet kerja di pinggiran kota Manado, seenggaknya cari yang kamar mandinya bagus (seenggaknya layak) dan sudah pake kran air, karena ada juga yang masih timba air dari sumur. Juga, cari tempat kost yang dekat tempat makan. Tapi karena di manado sini jarang banget yang namanya ‘warteg’, jadi, carilah kost yang sudah sediakan makan di rumah (atau seenggaknya loe bisa masak dengan bersih dan sehat di kost).
Transportasi:
Agak susah. Transportasi rame tersedia kalo pagi-pagi pas jam berangkat sekolah dan pas pulang kerja aja. Itupun cuma beberapa angkot yang tersedia. Mulai jam 9 pagi – 3 sore angkot susah banget dan ngandelin ojek. Ojekpun cuma nongkrong di kelurahan terdekat dari Manado, di kampung gue ini gak ada pangkalan ojek. Hiks. Kalo mau ke Manado tengah hari, bisa nunggu angkot sampe dua jam baru dapet.
Kalo mo naik ojek dari Tuminting ke Tongkeina Rp. 15.000,-
Naik angkot Rp. 3.000,-
Makan:
Seperti yang udah gue bilang, di Manado sini jarang banget warteg. Jadi, musti beli cemilan ato bahan makanan dari Manado… Huh…
Hiburan:
Biarpun Manado ini dekat laut, tapi pantainya nggak bisa ditongkrongin. Sedih deh. Soalnya hutan bakau gitu, dan gak ada tempat yang bisa ditonkrongin sama sekali. Tapi ada bukit dekat sini yang katanya sih keren banget kalo malem-malem ke sana, karena pemandangannya asoy geboy. Namanya Bukit Doa dan Gunung Tumpa.
Di sini juga ada resort yang asik banget buat diving ato cuma buat relax.
Biru dan Putih
Di ujung bebatuan…
Menikmati ombak tenang…
Memandangi air dan udara yang terpisah oleh garis permukaan laut…
So quite, so peaceful.
Manado: Tur Danau
Manado. Satu kota penuh sejuta aksi para penduduknya. Tahun ini (thank God) gue udah pergi ke berbagai tempat, berbagai kota, dan selain Bangkok, kota Manado adalah satu kota yang bikin gue lumayan shock dengan tradisi dan kebiasaan mereka, juga dengan udaranya.
Perjalanan kali ini ke dua danau yang ada di sini. Sebenernya bukan di Manadonya, tapi di Minahasa. Perginya naik motor bareng temen.
Danau Linow
Perjalanan ke Danau Linow sekitar 1 jam dari kota Manado. Pokoknya ke arah kota Tomohon, terus-terus lagi, tanya-tanya orang aja Danau Linow ada di mana. Danau ini ada di satu desa setelah Tomohon, jalan masuknya ada di sebelah kiri jalan. Untuk motor, HTMnya kalo gak salah Rp. 5.000,- Cuma bayar kendaraannya aja, bayar ‘turis’ per orangnya nggak perlu lagi. Di danau ini ada tempat menginap, dan kalau nggak nginap ada juga tempat nongkrongnya, satu gazebo kecil yang langsung menghadap ke danau.
Gue sama temen gue nongkrong di pinggir danau sambil cerita-cerita, berbagi kisah hidup (halah), menghkhayal, sharing, dan cari inspirasi… entah kenapa gue jadi suka kegiatan itu… :p enak aja, menenangkan diri dari kesibukan dan kegilaan kegiatan sehari-hari, hihihi…
Danau Tondano
Di dekat sini ada satu jalan, yang mereka bilang Boulevard-nya Tondano. Jalan ini satu jalan panjang di tengah-tengah sawah, dan berjejer warung-warung makan khas Manado sama Milu (jagung). Harganya standar Manado, tapi buat orang pendatang udah termasuk agak mahal. Ikan cakalang sepenggalnya bisa Rp. 4000,- Terus ada satu ikan Rp. 30.000,- satu ikannya, itu emang ikan yang jarang gitu, cuma ada di Danau Tondano. Tapi, asiknya, makan dengan pemandangan hamparan sawah dengan udara sejuk bikin betah duduk di situ.
Setelah makan, kita menuju Danau Tondano, tapi kita berhenti dulu di jalanan Boulevard itu dan foto-foto dengan pemandangan sawahnya. Bagus loh… waktu itu kita ambil foto sore-sore, menjelang jam setengah 5an, cahaya sorenya asik, gak silau, dan hasil foto juga jadi bagus. Recommended (tapi kebetulan gue foto cuma pake HP, jadi yaaa.. hasilnya gitu deh :p)
Before you go to Tondano Lake, visit the Boulevard St. near the lake. They sell Manadonese food and Milu (corn). Don’t forget to take pictures with the rice field scenery… I took some pictures around 4.30pm (september), the sun light was great and good weather, too.



























Comments