Posts Tagged Manado
Sekilas Manado
Memang, tadinya gue meremehkan.
Gue orang Jakarta, dan berencana mau pindah ke Manado. Dua hal yang gue sering denger tentang Manado itu, pertama, orangnya kebanyakan gaya, dan kedua, Manado itu kota yang mahal. Yang ada di pikiran gue, orang Jakarta juga banyak gayanya, dan semahal-mahalnya kota di Indonesia, mahal mana sih sama Jakarta? Ato seenggaknya sama lah biaya hidupnya… Tetapiiiii….
Manado ini adalah salah satu kota kecil yang berpotensi besar karena orang-orang mengharapkan sesuatu yang besar dari kota ini. Salah satunya karena ada Pulau Bunaken dan Manado itu salah satu kota besar di Indonesia. Ada satu jalan besar di Manado yang panjang dari ujung ke ujung, namanya jalan Boulevard. Sepanjang pinggir jalan Boulevard itu berdiri mall-mall terbaik kota Manado beserta ruko-rukonya. Pokoknya cuma mall dan ruko. Ada Mega Mall, ada Manado Town Square, ada Bahu Mall, dan ruko-ruko tambahan di setiap kompleksnya. Beberapa tahun lalu, Boulevard ini sebenernya adalah laut. Tapi ditambahin tanah sama pemkotnya, trus dijadiin jalan besar, dan bahkan sampe ada Mall… Sekitar 100-150 meter ke arah laut. Gila, tapi.. bener udah jadi. Jadi, di kota ini udah nggak ada yang namanya pantai lagi. Udah direklamasi. Jadinya ujung-ujung dataran Mall-mall tadi dibatasin sama batu-batuan besar untuk misahin laut sama kota.
Udara kota Manado ini panas banget. Mataharinya kerasa terik banget, dan beneran bikin keringet sampe keringetan banget. Tipe panas yang ‘nggak banget’ deh. Kalau nggak dapet tempat kerja atau sekolah yang gak berAC, bakalan kesiksa banget.
Listrik di kota ini fully supported by the Tondano Lake. PLTA soal’e. Tapi itu jadi kekurangan kota ini. Waktu musim kering, jadi sering mati lampu.
Nah, kalo kehidupan orang-orangnya juga rada unik. Mereka demen yang namanya shopping, shopping, dan shopping. Gosh… Gak pernah gue liat orang-orang sebanyak ini gila shopping. Mereka sangat konsumtif, tapi nggak produktif <—- tu peribahasa gue buat mereka. Keliatan banget waktu lebaran kemaren. Wuaaah, liburan dan yang lagi diskon sampe 70an%… Selama seminggu, semua mall ramai banget didatangin orang-orang. Dan hampir semua pulang dengan rata-rata 2 jinjingan.
Kehidupan hari Minggu di sini sangat sepi. Karena kebanyakan orang Kristen, banyak yang tutup toko-toko mereka full sehari. Ngejadiin ni kota mati kalo hari Minggu. Bahkan warung makan sekalipun. Paraaaaah (sampe tadi pagi gue kebingungan mo nyari nasi putih di mana).
Akomodasi
Nah, soal biaya hidup… di sini emang butuh duit banyak. Untuk kost, minimal 300.000, ini harga untuk tempat yang ‘manusiawi’. Tapi cuma kamar kosong, nggak dikasih kasur, tempat tidur, lemari, meja. Tapi tadi gue liat kost, ada juga yang harga Rp. 350.000 udah termasuk tempat tidur sama meja. Biasanya, kalo mau kost yang enak udah isinya (tempat tidur, lemari, meja), mulai dari harga Rp. 500.000 ke atas, dan udah di daerah tengah kota (Sam Ratulangi, Boulevard). Kalo kamar mandi dalam bisa Rp. 600.000 ke atas, dan kalo pake AC bisa Rp. 1.000.000 ke atas.
Transportasi
Standar. Rp. 2000, per sekali naik angkot. Dan biasanya dari sono ke sini bisa cuma sekali naik angkot doang, karena Manado tuh nggak gede-gede amat kotanya. Ke Airmadidi aja cuma Rp. 3500, dari terminal Pal 2.
Konsumsi
Ini dia bahan pembicaraan paling hot kalo pertama kali tinggal di Manado. Minimal makan di warung bisa Rp. 10.000,- Belum sama minumannya. Pertama kali ngekost, dan malam pertama cari makanan, gue nyari warung, dan mereka jual nasi goreng. Ternyata harganya Rp. 12.000,- Karena sakit hati, akhirnya besok malamnya gue langsung ke Solaria yang harganya nggak jauh beda. Jadi, dalam sehari, siapkan budget minimal Rp. 50.000 untuk 3 kali makan (udah bawa Aqua sendiri :p ).
Jadi, lebih baik masak sendiri di kosan. Orang-orang sini biasanya beli bahan-bahan makanan di hypermart atau Multimart. Harga di multimart nggak jauh beda sama yang di pasar. Tapi dengan masak sendiri di kosan juga harus tambah budget untuk beli peralatan masak sendiri (panci, wajan, codet, talenan, minyak tanah untuk kompor minyak, juga piring, sendok, garpu). Ada kosan yang nyediain kompor minyak, tapi biasanya orang-orang kosan punya kompor minyak sendiri. Tapi tetep, peralatannya harus beli lagi. Oh iya, wajib juga punya rice cooker, karena hari Minggu, warung-warung makan juga rata-rata tutup.
Komunikasi
Rata-rata orang sini pake kartu Simpati.
Warnet di sini mahal euy perjamnya.
Harga pulsa tinggal tambah 2000 dari pulsa yang mo dibeli. Misalnya beli Rp. 5000, dijual Rp. 7000.
Itu deh sekilas tentang kota Manado, bisa diperkirakan sebelum dateng ke sini perlu budget berapa untuk kost. Pada intinya buat gue, hidup di sini agak sulit, dengan gaji yang rata-rata juga nggak sesuai sama biaya hidup.
Tapi, bersyukurlah kalian yang udah kerja di Manado tapi penghasilannya sesuai dengan minimal kebutuhan hidupnya. Semua jadi nggak masalah. Hehehe…
2 comments October 11, 2009
Manado: Tur Danau
Manado. Satu kota penuh sejuta aksi para penduduknya. Tahun ini (thank God) gue udah pergi ke berbagai tempat, berbagai kota, dan selain Bangkok, kota Manado adalah satu kota yang bikin gue lumayan shock dengan tradisi dan kebiasaan mereka, juga dengan udaranya.
Perjalanan kali ini ke dua danau yang ada di sini. Sebenernya bukan di Manadonya, tapi di Minahasa. Perginya naik motor bareng temen.
Danau Linow
Perjalanan ke Danau Linow sekitar 1 jam dari kota Manado. Pokoknya ke arah kota Tomohon, terus-terus lagi, tanya-tanya orang aja Danau Linow ada di mana. Danau ini ada di satu desa setelah Tomohon, jalan masuknya ada di sebelah kiri jalan. Untuk motor, HTMnya kalo gak salah Rp. 5.000,- Cuma bayar kendaraannya aja, bayar ‘turis’ per orangnya nggak perlu lagi. Di danau ini ada tempat menginap, dan kalau nggak nginap ada juga tempat nongkrongnya, satu gazebo kecil yang langsung menghadap ke danau.
Gue sama temen gue nongkrong di pinggir danau sambil cerita-cerita, berbagi kisah hidup (halah), menghkhayal, sharing, dan cari inspirasi… entah kenapa gue jadi suka kegiatan itu… :p enak aja, menenangkan diri dari kesibukan dan kegilaan kegiatan sehari-hari, hihihi…
Danau Tondano
Di dekat sini ada satu jalan, yang mereka bilang Boulevard-nya Tondano. Jalan ini satu jalan panjang di tengah-tengah sawah, dan berjejer warung-warung makan khas Manado sama Milu (jagung). Harganya standar Manado, tapi buat orang pendatang udah termasuk agak mahal. Ikan cakalang sepenggalnya bisa Rp. 4000,- Terus ada satu ikan Rp. 30.000,- satu ikannya, itu emang ikan yang jarang gitu, cuma ada di Danau Tondano. Tapi, asiknya, makan dengan pemandangan hamparan sawah dengan udara sejuk bikin betah duduk di situ.
Setelah makan, kita menuju Danau Tondano, tapi kita berhenti dulu di jalanan Boulevard itu dan foto-foto dengan pemandangan sawahnya. Bagus loh… waktu itu kita ambil foto sore-sore, menjelang jam setengah 5an, cahaya sorenya asik, gak silau, dan hasil foto juga jadi bagus. Recommended (tapi kebetulan gue foto cuma pake HP, jadi yaaa.. hasilnya gitu deh :p)
Before you go to Tondano Lake, visit the Boulevard St. near the lake. They sell Manadonese food and Milu (corn). Don’t forget to take pictures with the rice field scenery… I took some pictures around 4.30pm (september), the sun light was great and good weather, too.
Add comment October 11, 2009



