Where in the World is Osama bin Laden

December 7, 2008 at 2:26 pm 1 comment

(banyak spoilernya)

Morgan Spurlock, sutradara sekaligus pemain inti film ini (hampir) keliling dunia nanyain ke orang-orang ‘Di mana si  Osama?’ Orang yang dah bikin dunia ini heboh beberapa tahun belakangan ini. Ngebikin satu hal baru yang jadi nge-tren: terrorism… bom sana, bom sini.. bikin bom dah kayak ‘beli permen sekali rauk’. :p

Duh kelewatan deh review awal gue. Sebenernya, awal film ini menceritakan tentang gimana Morgan Spurlock yang sebentar lagi akan punya anak, dan bingung atau malah takut gimana menghadapi masa depannya, juga anaknya. Gimana cara dia dan istrinya harus menghadapi kenyataan dunia yang kejam ini, dan gimana cara melindungi anaknya dari… umm… kejahatan lingkungan sekitar, penculikan, bencana alam, tsunami dkk,  dan… gimana kalo lagi ada teroris kayak yang lagi gencar sekarang..? Apalagi mereka westerners.. Jadi, Morgan berencana mencari tahu sendiri di mana Osama bin Laden – Bapak teroris sedunia – orang yang paling dicari.

Di sepanjang perjalanannya, dia langsung bertanya ke orang-orang di jalan, “Di mana Osama bin Laden?” Beberapa dari mereka juga sempat diinterview dulu. Reaksi orang-orang tadi tentunya bervariasi. Tapi satu hal yang sama dari jawaban mereka yaitu ternyata orang-orang Muslim sendiri yang menganggap perbuatan Osama itu kejam, dia juga sampe ke satu bagian di Afganistan di mana rakyatnya bener-bener terlantar tar tar tar secara menyedihkan. Terus di Pakistan kalo gak salah, pokoknya yang daerah-daerah perbatasan itu deh, dia pergi ke satu sekolah yang baru aja di bom 8 jam lalu. Sekolahnya hancur, tapi untungnya lagi gak ada yang belajar di dalam. Dia juga mampir ke daerah-daerah yang ‘nggak banget’ untuk dikunjungi turis, dan… mungkin rasanya, 100x lebih menegangkan daripada mau naik roller coaster paling gila. Lalu di Arab Saudi, terasa banget perbedaan kulturnya. Satu lagi yang bikin film ini ‘bercerita’ adalah waktu mereka ke tempat di mana banyak orang Yahudinya. Melihat reaksi penduduknya yang nggak ‘menerima’, yah, lumayan ‘nambah bahan film’lah buat dijual.

Jadi, film ini bertema (yang sebenernya) serius, tapi dibawain dengan (lumayan) kocak. Liat aja posternya yang diatas. Haha.. Sutradaranya emang gila… haha. Tiga kata yang ada dipikiran gue setelah nonton film ini di Jiffest, hari Jumat kemaren: Nekat, niat, kreatif. Banyak yang bisa didapet dari film dokumenter ini. Buat gue sendiri sih, ambil hikmahnya aja. Ya emang itu intinya sih..hehe.. Dari film ini, bisa jadi bahan renungan untuk Bersyukur, bukan untuk menambah bahan caci-maki buat para teroris. Bersyukur karena hidup kita di sini gak sampe terlantar kayak orang-orang di Afganistan sana, dan kampus gue nggak sampe dibom siang-siang bolong (ato mungkin belom aja..hahaha. OMG pikiran gue!). Well, at least, I thank God that my family, especially my mum still alive. Dan.. bisa juga jadi ilmu tambahan bahwa orang-orang Muslim tuh gak se-negatif dan seburuk kayak yang dipikiran orang-orang nonMuslim kebanyakan. Worth to watch lah. Lima belas menit pertama bakalan ketawa, selanjutnya bakalan mulai serius, dan 5 menit terakhir bakalan… ‘yaaaah..’ (antara nyesel endingnya gitu dan well… ya emangnya mau gimana?).

Entry filed under: film. Tags: .

City of Ember putsal

1 Comment Add your own

  • 1. quicksand  |  December 8, 2008 at 11:00 am

    menarik nih. masuk list.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: