Drupadi

December 22, 2008 at 3:09 pm Leave a comment

Film garing berdurasi 40 menitan ini mengisahkan tentang seorang wanita cantik bernama Drupadi, seorang wanita yang kisahnya tak terlalu di-expose dalam kisah Mahabrata. Masuk dalam salah satu pilihan film yang diharapkan laku banyak, dan masuk kategori “Gala Premiere”, film ini bener-bener bikin kecewa penonton termasuk gue. Buat gue, film ini kayak drama teater Mahabrata tapi direkam jadi film. Pendapat temen gue lebih parah lagi, “Wayang kulit!” Wahaha.. Emang bener!

Ringkasan cerita versi 1: Sebuah kisah miris seorang istri dari lima Pandawa, lima lelaki rupawan yang berhasil merebut hati Drupadi pada lomba memanah saat ia mencari pasangan hidup. Drupadi sendiri adalah seorang wanita cantik, putri sang agni. “Senyumnya bagaikan mentari pagi,” begitu aku suami tertua Drupadi yang kelak akan jadi raja. Dari kelima suaminya itu, sesungguhnya Arjunalah yang menjadi pujaan hatinya. Tetapi segala kepercayaan Drupadi akan kelima pendamping hidupnya itu hilang dalam satu malam yang singkat. Dirinya dipertaruhkan sendiri oleh suami terbijaknya – hanya karena sebuah permainan dadu melawan keluarga Kurawa. Kisah ini diakhiri dengan pertempuran para Pandawa melawan Kurawa untuk merebut kembali apa yang telah direbut oleh Kurawa.

Ringkasan cerita versi gue: Jadi, lepas dari ringkasan cerita gue yang sok berbahasa Indonesia baik dan benar serta puitis di paragraf atas, ceritanya ini tentang seorang cewek yang poligami lima suami (wth?). Sebenernya dia cuma jatuh cinta sama Arjuna waktu lomba memanah itu, tapi menurut sapaa gitu – dewa apa kalo gak salah – ato apaalah gue gak tau – kalau dia bersuami lima, itu akan sempurna. Jadilah dia bersuami lima. Hyaaah, maunye! Suami paling tua (gue lupa sapa), dia bakalan jadi raja di negeri itu (hmm.. biar ‘terkenal bareng’), terus ada Nicholas Saputra yang jadi Arjuna. Tapi kesannya, di film ini, Arjuna yang emang paling good looking, jadi kayak tempat pelampiasan hawa nafsu doang. Salah penerapannya ke layar lebar neh. Seharusnyakan Arjuna jadi orang yang paling dicintai, bukan untuk ‘ehem ehem’. Lalu ada Bima, cowok yang mungkin lebih mencintai Drupadi daripada Arjuna. Dan ada dua orang kembar lainnya yang jadi suami Drupadi. Gak tau deh maksud peran mereka apaan. Terus, suatu hari suami-suami Drupadi diajak tanding lempar dadu sama kerajaan tetangga yang dipimpin sama keluarga Kurawa. Entah yang bodoh si pemain, pembuat cerita, atau si sutradara, keliatan banget kalo dadunya enggak dikocok sama wakil pemain dari keluarga Kurawa. Pokoknya gitu deh. Dan juga.. betapa bodohnya orang yang kelak bakal jadi raja, cuma karena sebuah permainan dadu, dia rela ngebuat semua hartanya, dari penari, adik-adiknya (suami-suami Drupadi) sampai dirinya sendiri, bahkan Drupadi dijadiin bahan taruhan mainan Dadu! WTF??! Drupadi yang bete. Super bete karena suaminya ngejadiin dia jadi bahan taruhan, dan dia juga hampir ‘dihabisin’ sama keluarga Kurawa, akhirnya dia berjanji.. akan terus menggerai rambutnya, gak bakalan dicuci sampe dia mencuci rambutnya dengan darah musuh-musuhnya itu… hyaaah… gaya banget. Dengan pertarungan yang dibuat sangat singkat sama editor filmnya (tentu saja dengan arahan sutradara)… film diakhiri dengan scene Drupadi dengan hati yang udah tenang dan merasa menang, rambut tergerai indah, duduk di tepian sungai bersama dengan lima suaminya yang sedang berlutut seperti ‘menyembah’ Drupadi. Mungkin bermaksud meminta maaf. Then.. tiba-tiba… end of story.

Bener-bener film garing. Ternyata ada yang lebih garing lagi dari 9 Naga.

Entry filed under: film. Tags: .

Happy Holy Day Fast Movie Reviews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: