Sabtu kemaren

December 22, 2008 at 3:13 pm Leave a comment

Hari Sabtu tuh, hari yang bener-bener full seharian di gereja dari pagi sampe malem. Kayak kerja full-time, ditambah lagi lembur. Tapi bedanya sama kerja tentunya, kita ngelakuin itu dengan senang hati, bukan karena tujuan pribadi – ngejar gaji.. hehe.

Sabtu kemaren selesai kebaktian ada kebaktian perjamuan suci lagi, habis makan, langsung latihan musik (tapi gue ‘bolos’ :p). Gue ambil ‘fast forward’, ikut rapat acara tahun baru bareng Bang Fred, BL, sama Minsky. Eeeh, tiba-tiba Ferry dateng, terus nyelak minta rapat PF dulu. Minsky gue liat udah bete aja. Soalnya kita cuma mo ngerampungin rundown acara doang. Dan ternyata rapat PFnya lumayan lama. Beeuh… gue sindir-sindir ‘ngeliat jam’ aja melulu, hahaha.

Beres rapat PF, lanjutin lagi rapat acara tahun baru, terus kelas PF. Gue ngajar kelas EB puyeng banget. Mereka anak-anak seumuran 5-6 tahun gitu. Udah gitu dua anak nangis cuma gara-gara nggak kedapetan tempat duduk. Wew..

Nah, pas kebaktian terakhir ini, Rut ngebawain acara inti. Dia udah grogi sebelum acara mulai. Dengan bermodalkan slide-show Power Point yang udah disiapin, dia ngebawain acara tentang bersyukur. Pertama, kita dibagiin kertas kecil untuk diisi dan diminta tulis beberapa keluhan-keluhan kita sama Tuhan selama tahun 2008 ini.

Jawaban orang-orangpun bervariasi. Karena di acara itu yang datang dari banyak kalangan (anak-anak, remaja, dewasa, sampai orang tua), jadi jawabannyapun sangat bervariasi dari polos sampe ‘dewasa’ banget. Hehe.. Ada yang tulis, “Aku sebal karena mama sering marahin aku. Mama waktu itu nggak jadi beliin aku sepatu yang aku pengen, bla bla bla..”

Ada juga yang tulis, “Kenapa sih semua orang nggak ngerti kalo gue nggak bisa main piano?” Huhuhu. Si Darta yang tulis. Coz ternyata dia sering diminta main piano di gereja, padahal dia nggak terlalu bisa dan nggak terlalu mau. Padahal mungkin kalo diminta tolongnya main biola atau bass, dia pasti mau. Hmm..haha, kadang, orang emang suka maksa ngelakuin apa yang kita nggak nyaman.. (loh jadi curhat :p)

Orang-orang yang lebih dewasa nulis begini kira-kira, “Orang-orang terkadang terlalu ribut di dalam gereja.” Ada juga yang tulis, “Kenapa gereja kita nggak selesai-selesai juga pembangunannya. Saya nggak mau lagi berbakti di bawah, saya mau berbakti di atas.” Atau begini, “Orang-orang suka datang terlambat ke kebaktian gereja.” Dan juga.. “Kenapa terkadang, orang suka menonjolkan dirinya dibanding orang lain?”

Ada juga yang mengeluhkan keadaan keluarganya, nilai-nilai pelajaran sekolahnya, dan juga tentang dirinya sendiri yang ‘begitu-begitu’ aja.. too ordinary.

Selanjutnya, Rut ngeluarin ‘senjata ampuh’nya – Slide shownya dia. Berisi tentang perbedaan-perbedaan kehidupan orang yang bedanya drastis banget, dalam bentuk foto. Ngomongin kalau dengan segala keluhan kita tadi di kertas-kertas itu, kita bandingkan dengan foto-foto yang ditampilkan. Bagi anak kecil yang ngeluh nggak dibeliin sepatu, ada foto yang nunjukkin seorang anak pake sendal tapi sendalnya itu dia ‘rakit’ sendiri dari bahan botol minuman air mineral gitu. Ada lagi, foto anak yang lagi makan kenyang, tapi dibandingin sama anak kecil busung lapar gitu, dan makanannya nggak jelas. Yang lainnya lagi, gambar-gambar rumah ‘tak layak tinggal’, tempat berbakti seadanya (dari tenda), dan masih banyak lagi. Oh iya, ada yang menarik, satu foto nunjukkin anak-anak yang lagi berantem, dan foto satunya nunjukkin sekumpulan anak-anak miskin ramean lagi main di lapangan, tapi mereka bahagia.

Ya gitu lah. Bisa ambil sendiri intinya apa. Dengan segala yang kita punya sekarang, apa masih perlu kita mengeluh, yang seharusnya malah kita bersyukur?

Kekurangan itu bagian dari pikiran kita. Ayat intinya kak Rut sendiri gue nggak inget. Tapi soal mengeluh akan kehidupan ini ato merasa kekurangan.. pokoknya yang begitu deh.. gue selalu inget sama satu ayat Alkitab yang intinya – Don’t Worry Be Happy – hehehe. Versi panjangnya begini:

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Matius 6:25-34.

Advertisements

Entry filed under: hari ini. Tags: , .

Fast Movie Reviews Gratitude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: