Sepuluh

February 18, 2009 at 9:11 am 2 comments

Yak. Gue akhirnya nonton film Indonesia lagi. Haha, mungkin gue emang plin-plan kayak temen gue bilang. Soalnya, sekarang gue malah pengen nonton film Indonesia, horornya juga. Padahal dulu gue benci banget, dan rasanya gak akan nyentuh film-film Indonesia lagi dengan alasan apapun. Tapi di lain sisi, yaaa gue cuma mo liat aja perkembangan film Indonesia sekarang. Contohnya kayak pas nonton film Sepuluh ini. Gue milih film Indonesia secara random dan gak tau film apa yang bakal gue tonton. Pengen liat aja ide-ide cerita film sekarang udah mulai berkembang, ato masih horor ato American Pie wannabe (APW). Pemainnya pada masih kaku, ato udah natural. Filmnya juga.

Sooo.. filmnya…

Filmnya lumayan beda dari genre film-film Indonesia saat ini. Dengan ngambil tema kehidupan anak jalanan, sebenernya ide ceritanya lumayan menarik. Nyeritain tentang seorang anak jalanan (yang sayangnya castingnya tipe Michael McKay banget: yang penting pemainnya cakep) yang hidup bersama anak-anak jalanan lainnya. Mereka itu dihidupi sama organisasi liar yang bosnya punya pekerjaan sampingan ‘ngegaruk’ anak-anak jalanan itu. Kalo salah satu anak digaruk, artinya anak tersebut dibunuh dan salah satu organ tubuhnya dijual ilegal. Ya, perdagangan organ tubuh manusia ilegal. Serem juga. Di sisi lain, cerita ini juga mengisahkan tentang seorang Ibu yang kehilangan bayinya, beberapa tahun lalu. Trus si Ibu tadi ditangkep polisi gara-gara dituduh ikut perdagangan/pemakai narkoba. Padahal bukti narkoba yang ditemuin polisi itu punya suaminya (bukan dia). Nah… apa nyambungnya sama si anak jalanan tadi? Ternyata anak jalanan tadi adalah anaknya yang hilang sepuluh tahun lalu. Selama sepuluh tahun si Ibu dipenjara, dan dari angka sepuluh tadilah judul film ini dibuat. Hyaaaaa.. Please deh, gak ada judul lain?

Emang susah deh kayaknya nyari judul film.

Kecuali film ini hasil produksi Lionsgate, dan syutingnya di kota Mexico, gue sah-sah aja ngeliat pemain inti yang secantik Rachel Miriam (yang jadi Yanti), dan Yofana (yang jadi Mongki). Secara, Mexico (ato orang-orang Amerika bagian tengah ke bawah sana) emang cantik-cantik… Tapi (no offense)… di Jakarta, nggak ada pengamen jalanan segahar tapi cantik kayak Mongki. Kesalahan besar dalam casting juga dialami film Oh Baby.

Rachel Miriam sama Mongki ngemainin perannya lumayan bagus, tapi August Melasz (yang jadi Dargo) masih keliatan kaku biarpun style-nya yang sok gahar itu dah dapet. Juga pemain-pemain sisanya (semuanya!). Yang paling males sih gue ngeliat peran anaknya Thomas (Arie Wibowo). Anaknya sapa tuh ditawarin main film?? Nggak ada yang lebih profesional apa? Liat dong pemain Charlie and the Chocolate Factory. Hell yeah, gue ngambil langsung dari Hollywood. Tapi kan profesi kalian sama-sama pemain film. Seharusnya sama dong jagonya kalian main film biarpun di Indo, negara cupu yang film-filmnya masih berkembang ini.

Ya, film kayak gini buat di tonton di bioskop emang Worth to Watch, but not Worth Full Price (ngambil quote MPC.com), huehehe.. Tapi seenggaknya, udah ada rumah produksi di Indonesia yang ngambil tema selain Horor dan APW. Way to go.

Entry filed under: film. Tags: .

Akhirnya The Lazarus Child

2 Comments Add your own

  • 1. hariss  |  June 14, 2009 at 10:43 pm

    mungkin sutradaraya nggak sempat cari pemain anak2 yg pas,maklum flm indonesia ho ho ho

    Reply
    • 2. greenerz  |  June 15, 2009 at 5:36 am

      aduh.. gak sempat? bukan gak sempat tapi gak niat… :p

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: