Berubah!

May 3, 2009 at 4:55 pm Leave a comment

(gayanya Power Ranger gitu).

Entah mengapa, gue menyadari perubahan drastis di hidup gue. Entah mengapa juga gue selalu curhat di greenerz. Offline diary gue jadi sia-sia neh.

Alkitab emang bener, ‘segala hal ada masanya’. Kali ini, gue bener-bener ngerasa ada perubahan drastis di karakter dan kehidupan gue. Ato mungkin.. perubahan drastis di karakter gue yang mempengaruhi kehidupan gue. Dulu ya, gue masih polos banget. Halah (sok gak polos gitu sekarang). Tapi sekarang, setelah gue lebih kenal sama dunia ini; baik buruknya, indah jeleknya, gampang susahnya… intinya, gue jadi selalu merespon dengan pikiran negatif akan apa yang gue terima (dengar/lihat/rasakan). Gue selalu berpikir kalo perkataan-perkataan orang itu hanyalah suatu bentuk kemunafikan, pengen cari perhatian, dan sok tua, sok tau. Dan kalau gue melihat seseorang melakukan sesuatu (entah itu lagi kerja, atau lagi berorganisasi, usaha, dll), itu cuma suatu bentuk formalitas mengisi kekosongan waktu hidup di Planet yang warnanya biru ini kalo diliat dari luar angkasa.

Gila, betapa gak enaknya kalau otak dipenuhin sama pikiran-pikiran jelek dan negatiff. Gue jadi idealis, dan sok sempurna, seenggaknya di kepentingan umum. Contohnya kalo lagi di jalanan dan gue lagi bawa mobil. Gue sebel banget sama mobil-mobil lain atau (terutama) angkot-angkot yang jalannya ‘kumaha aing we’, dan berhentinya ‘di mana aing pen berhenti’. Ugh, kayak orang gak berpendidikan aja. Itu pas SIMnya nembak semua deh. Dan gue akan kesal sampe pengen gue teriakin tu sopir-sopir angkot. Tapi palingan gue klaksonin aja. Contoh lainnya, gue males banget kalo gue di minta tolong atau malah disuruh. Kalo di minta tolong mah gak papa. Malesnya kalo lagi di suruh. Pemikiran gue anak kecil banget, ‘why me? why don’t you do it yourself?’

Ni… kesaksian deh —> Setelah gue perhatikan, ternyata jaraaang banget gue disalamin duluan sama orang kalo lagi hari sabtu. Emang dah kebiasaan, kalau di gereja tuh gue selalu nyamperin dan salamin orang dulu. Tapi suatu hari, waktu itu otak gue lagi gak beres, lagi bete, dan lagi bener-bener gak mood, gue berpikir begini, “Ah, hari ini gue males nyalamin orang. Biar mereka aja yang nyalamin gue kali ini.”

Pertama, gue survey ke anak-anak kecil: damn… entah ajaran orang tuanya yang kurang, atau emang anak-anaknya gak sopan sama yang lebih tua, atau terlalu cuek dan ‘ I don’t give a damn about shaking hands to older people, even it’s Sabbath day’. Hmm.. kecewa deh gue sama anak-anak kecil itu.

Survey gue ke anak-anak remaja: untuk anak cowoknya – gak usah ngarep sama sekali. Untuk anak ceweknya – bah, sama aja. Mereka gak anggap salaman itu penting. Tapi seenggaknya, anak cewek akan nyalamin duluan kalo mereka duduk di dekat gue.

Survey gue ke orang-tua: Wah, yang satu ini emang sulit. Namanya juga orang tua, pasti pengennya disamperin, disenyumin, trus disalamin deh. Kebanyakan syaratnya. Di mindset mereka udah kecetak nempel di dalem jidad: ‘Anak-anak yang lebih muda dong yang harus datangin kita, dan kalo bisa salim tangan! Kalo mereka (anak-anak muda) ada di dekat kita (ortu), tapi mereka gak nyalamin kita, bah.. mereka adalah manusia-manusia yang etikanya masih dibawah standar. Kemudian mereka akan membanding-bandingkan tata krama mereka (yang almost perfect ituuu!) waktu mereka muda dulu ke orang tua mereka.

Trus, selama kira-kira setengah jam kemudian, akhirnya otak gue kembali normal.

Bodo lah, mereka mo salamin gue apa enggak. Emang merekanya yang ‘gak tau diri’. Lagipula, nyalamin orang tuh suatu bentuk kegiatan positif dan sangat baik kok, bersalaman itu ‘intro’ sebelum bersapa dan mengobrol; biar suasana jadi cair, dan menyapa orang lain itu hal yang menyenangkan kok. Dan terakhir..  in the end, it’s not about me and them.. but it’s all about me & God.

Entry filed under: hari ini, manusia. Tags: .

cerita SD Travelling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: