26 Juli

July 27, 2009 at 10:34 am Leave a comment

Pagi-pagi seperti biasa, gue ngajar piano. Murid gue masih 5 tahun, namanya Key. Dua minggu awal bulan ini gue tinggalin dia ke Malang dan Bali, jadinya nggak les. Ternyata, dia gak bisa ditinggalin selama itu. Tadinya dia udah jago baca not, sekarang dia udah mulai lupa dan mulai lambat main pianonya. Tapi gue yakin, pasti dia bisa lancar lagi dengan cepat. Hehehe…

Siangnya, ke daerah Ciluar, ikutan acara kebaktian di sana. Sebenernya, yang gue incer itu makan siangnya. Hahahaha… Tapi, berhubung udah lama gak ikut kebaktian selain di gereja, nggak ada salahnya gue mulai ikutan acara begini lagi. Dulu, kira-kira sampe gue SMA, gue rajin ikutan kebaktian kayak gini. Dan gue gak nyesel banget, hari Minggu kemaren gue ikutan kebaktian. Emang, gue gak merasa dapet berkat dari kebaktian kemaren (secara, aing sare pas lagi renungan :p ), tapi, gue ngerasa kekeluargan yang masih tersisa di kumpulan yang cuma ada beberapa keluarga doang dari sekian puluh keluarga di gereja gue. Inilah orang-orang yang masih peduli dan merasa ‘we are a family – not families’.

Sorenya, gue ikutan kebaktian lagi di Jakarta. Kebaktian kali ini acara kedukaan. Huh, orang meninggal lagi. Udah 3 kali dalam sebulan ini gue pergi ke acara orang meninggal.

Biarpun gue gak kenal-kenal amat, tapi gue tetep dateng, ikut bareng bokap, nyokap, BL, dan beberapa orang gereja lain.

Dateng ke acara kedukaan itu bagusnya, jadi mengingatkan kita sama kenangan keluarga kita ato sahabat dekat kita yang udah ‘pergi’ duluan. Selain itu juga, jadi ngebuat kita jadi ‘introspeksi’ diri lagi akan apa yang udah kita perbuat di hidup kita. Sewaktu lagi kebaktian, gue jadi mikir-mikir lagi akan kehidupan gue. Apa yang udah gue buat buruk, apa yang udah gue buat baik. Apakah yang gue perbuat selama hidup gue itu cukup supaya kalo nanti ‘tiba waktu gue’, gue bisa ‘aman’?

Diperjalanan, gue duduk di paling belakang bareng tante Cynthia sama BL. Dua tahun lalu, kita bertiga dapat kedukaan di tahun yang sama. Gue ma BL  dtinggal sama Dd. Tante Cynthia ditinggal sama mamanya. Malam itu, di mobil, si tante nyeritain kisah-kisah beberapa hari sebelum mamanya meninggal. Aaah, sedihnya. Udah nahan-nahan air mata aja, gue.

Pas nyampe di rumah duka, gue sama BL masih lanjut cerita-cerita. Kali ini, kita bedua mengenang si Dd. Dia kakaknya si BL, dan sahabat deket gue. Satu hal yang selalu gue inget, hari itu rekor nangis terlama gue. Hampir satu hari full :p. Dan waktu akhirnya sampe di rumah duka, masih di depan pintu, gue langsung lemes dan nangis histeris kayak lebainya sinetron-sinetron Indonesia. Wekwekwek.

Acara kebaktian malam itu akhirnya baru mulai jam 1/2 delapan malam, dan baru pulang sekitar jam 9 malam. Sampe di Bogor lagi jam 1/2 sebelas malam, dan kita semua langsung tepar.

Entry filed under: hari ini. Tags: .

Public Enemies 2000 views @ Panoramio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: