Di Manado

June 20, 2011 at 2:20 am Leave a comment

Yah, emang karena gue anak kota kali yak. Gue berkesempatan dapet pendidikan dan kehidupan yang (lebih baik).

Setelah ke Manado… biarpun udah termasuk kota maju, tapi masih jauh di belakang dibanding Jakarta, kota Metropolitan, yang juga masih jauh di belakang dibanding ibu kota negara maju lainnya.

Sekarang, gue sedang menghabiskan eberapa bulan hidup gue di pedaleman kota Manado. Di mana-mana pohon pisang dan kelapa. Rumah-rumah masih model rumah sederhana, cuci baju masih di sungai, ambil air masih timba di sumur, dapurnya bikin gue males masak, kamar mandinya juga (hmmm… don’t even wanna talk about it).

Di rumah, gue buka usaha sampingan, sewa playtation 2, 3 buah. Satu jamnya Rp. 3000. Laris dari minggu pertama buka sampe sekarang. Gue jadi untung, di mana pendapatan sewa PSnya lumayan bisa hampir nyamain gaji gue sebulan (berarti gaji gue sedikit, haha), sampe-sampe yang tadinya cuma sewain 1 PS, dalam waktu cuma beberapa bulan udah bisa nambah 2 PS, 1 tv baru, 1 handphone baru (uhuy), dan kemarin baru beli tv lagi. And it gets better, gue dah bisa punya pulsa lebih untuk langganan internet 1 bulan dari handphone.

Di sisi lain, sebel dan sedih.
Gue mendapati bahwa anak-anak kampung di sini, anjrit, kurang ajar semua. Dengan gampangnya mereka ngeluarin kata-kata nggak becus kalo lagi berantem ato kalah pas main. Bukan isi kebun binatang aja yang disebut tapi yang lain juga. Risih banget deh dengernya. Sampe-sampe gue pernah kagak kasih mereka masuk dan main lagi, karena tempat sewa PS gue udah kayak kandang sapi kagak jelas. Nggak cuma kata-kata, tapi kelakuan juga kurang ajar. Cara ngomong sama orang lebih tua juga begitu. Pokoknya bikin gue terheran-heran sama orang-tuanya (YUP, orang tuanya bukan sama anaknya).

Cerita lainnya yang bikin sedih, entah standar pendapatan mereka memang rendah, orang-orang di sini jadi bermental ‘pendapatan memang segitu, gak tau mau gimana lagi, dan banyak yang nggak berusaha lagi’. Nggak usah ngomongin dulu mereka yang emang cuma lulus SMP, tapi as gue ‘menginterview’ temen-temen gue yang menurut gue pintar, berpendidikan dan baik dibidangnya, jawaban mereka juga mengecawakan. Contohnya, temen gue – bawahan bos besar dan anaknya lumayan pinter dan jago bahasa inggris. Karena gue ngeliat potensinya, gue tanya iseng ke dia apa dia ada rencana kerja di tempat/kota lain, yang lebih baik, lebih menantang, dan lebih bikin ilmu bertambah? (soalnya di Manado, dia udah dapet kerjaan bagus di tempat saingan kantor gue). Tapi dia jawab… hmm… yang intinya dia belum mau pisah dari pacarnya di sini. Hyah!!!

Lainnya, mereka cuma tertarik untuk jadi sopir Blue Bird, waiter, ato ojek.

Entry filed under: manusia. Tags: .

Laptop dan Air Panas Banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: