Pengalaman Imunisasi Anak

September 6, 2011 at 5:09 am 2 comments

Rissa lahir di akhir bulan Juni lalu. Sehat dan normal. Kami pulang dari rumah sakit setelah 3 hari di RS, sesuai paket yang ditawarkan RS. Biaya kelahirannya juga nggak mahal-mahal banget, karena Rissa lahirnya bagus trus nggak pake perawatan dan pengobatan tambahan. Kakak gue aja sampe 11 jutaan cuma karena anaknya lahir kuning (yang seharusnya di bawa pulang langsung juga nggak apa-apa tinggal dijemur sama minum susu banyak).

Di kunjungan terakhir dokter waktu kami masih di RS, dokter bilang supaya check-up seminggu lagi. Yo wis, pas seminggu kemudian, gue bawa anak gue ke dokter anak (dokter yang udah rawat Rissa di rumah sakit). Datang ke praktek dokter, anak gue ditimbang, di cek segala macam, dan sehat-sehat aja. Setelah mo bayar, dokter bilang, “Imunisasinya nanti aja dulu, ya. Tunggu sebulan lagi.” Gue dan suami ngangguk-ngangguk, trus bayar, trus pulang.

Setelah anak gue umur 1 bulan, gue dan suami udah siap-siap hari kapan mo ke dokter lagi. Gue yang rajin online, cek di google tentang imunisasi bayi, karena banyak juga kan imunisasi bayi yang gagal atau salah sampe-sampe si bayi malah sakit, atau malah meninggal. Nah, gue dapet Jadwal Imunisasi 2010. Gue cek di buku Paspor Kesehatan yang dikasih RS, jadwal imunisasi yang ada di buku ternyata masih yang 2006, dan memang ada sedikit perbedaannya. “Hmmm…!” Pikir gue.

Setelah diteliti (halah), ternyata ketika baru lahir, si bayi sudah bisa/harus diberikan imunisasi antara lain: BCG, Polio dan Hepatitis. Ada keterangan di bawah, di Jadwal Imunisasi 2010, kalau Hepatitis diberikan dalam waktu 12 jam setelah si bayi lahir. Kalau BCG, masih nggak papa, asalkan rentang waktu sampai 3 bulan. Kalau Polio seenggaknya waktu bayi mau pulang ke rumah dari RS, tapi masih dalam umur 0 bulan. Waah, pikir gue. Anak gue udah umur 1 bulan tapi belum dikasih imunisasi apapun. Langsung gue cek ke RS. Si perawat yang terima telepon gue tanyain sapa dokter anak gue, gue bilang si Prof. S. Trus si perawat bilang, kalau dokter anaknya si Prof. S, biasanya nggak langsung dikasih imunisasi ketika lahir, nanti tunggu waktu check-up ke dokter. Trus, gue telepon lagi ke si Prof. S, minta penjelasan kenapa anak gue belum dikasih imunisasi sama dia sampe sekarang, malahan disuruh nunggu 1 bulan. Si Prof. S (yang juga namanya dokter, mungkin (maaf) malas konsultasi lewat telepon, karena nggak ada ‘transaksi’), terdengar pengen cepet-cepet selesai teleponnya dan nggak jelas penjelasannya. Gue tanya, kenapa anak gue belom diimunisasi, dia jawab, karena Hepatitis B memang nggak perlu banget disuntik pas lahir, kecuali emang ada riwayat keluarga yang Hep. B. Gue tanya lagi, trus kenapa harus tunggu 1 bulan, dia jawab karena lihat kondisi anaknya (padahal anak gue sehat. emang waktu itu gue bilang anak gue beberapa hari lalu sakit panas (yang ternyata cuma guenya aja yang panik, si Rissanya mah sebenernya nggak panas), jadi makanya si dokter tunda, tapi kan si dokter udah periksa kalo anak gue sehat-sehat walafiat banget. Trus gue bilang, ini anak gue udah 1 bulan, berarti udah boleh disuntik dong? Dia jawab, “Maksud saya dalam waktu satu bulan, bukan tunggu umur 1 bulan.” Wong, ya, waktu itu dia bilang tunggu 1 bulan kok! Dari saat itu keliatan ni dokter rada-rada juga… huh. Kecewa, saya, kecewa.

Tapi saya tetap pergi ke Prof. S. Sepertinya saat itu dia hanya menunggu saya, karena saya lihat tempat praktek dokternya tutup. Lalu saya telepon dia, dan dia langsung keluar dari rumahnya. Dia terlihat tergesa-gesa (dia bilang sih lagi ada Ibadah di rumahnya). Biarpun ada ibadah, saya sebagai ibu tetap tidak mau si dokter tergesa-gesa sebenarnya. Be profesional lah. Takutnya entar salah ambil jarum suntik, trus malah suntik vaksin Campak lagi… hehe… (menurut saya, khawatir boleh. untuk anak sendiri apalagi masih bayi, saya nggak mau dianeh-anehin sama orang, walaupun dokter, yang juga bisa melakukan kesalahan, dan terbukti dari cerita-cerita tetangga online).

Rencana saya, selain vaksinasi si Rissa, saya juga mo konsultasi. Wong, bayar loh, ke dokter. Saya tanya ke dokter, kenapa si Rissa BABnya cair? nggak seperti kemarin-kemarin warna kuning kental dan ada bulat-bulatnya? Dokter yang lagi buru-buru malah jawab yang agak menyalahkan, “Minum susu kaleng kan? Asi lah! Lihat aja, dia udah minum susu paling mahal, yang paling bagus aja, begini. Ini baru 1 bulan, bagaimana nanti? Sudah stop, lah, susu kaleng. Kasih ASI!” Karena anak gue masih susah mo nete, jadi gue masih setengah-setengah kasih ASI, lagipula ASI gue juga nggak keluar banyak. Jadi gue tanya lagi, “Apa mungkin nggak cocok susunya, dok?” Si dokter jawab lagi. “Sudah lah! ASI itu yang paling baik. Stop susu kaleng.” Gue bilang ke dokter kalo ASI gue nggak keluar banyak, sampe-sampe anak gue nggak mau nete, karena nggak kenyang, dan jadinya nangis melulu. Gue juga nggak mungkin ngebiarin anak gue nangis gila karena nggak dikasih susu, kan? Tapi si dokter cuma ngotot, kasih ASI. Damn! Gue minta solusi, bukan pemaksaan. Gue tahu ASI emang yang terbaik, tapi kan kayak orang ngerokok, nggak bisa berhenti begitu aja, musti pelan-pelan. Sama kayak anak bayi, apalagi yang udah kenal dot, bukan puting. Musti pelan-pelan kasih nete, nggak bisa langsung lepas dot, kan?

Sebenernya masih banyak pertanyaan tentang perawatan bayi lainnya, tapi karena dokternya begitu, ditambah dia buru-buru, ditambah dia bukan tipe dokter yang enak untuk diajak konsultasi, yo wis, gue selesaikan pembayaran dan pulang. And I’m sorry, Prof., I’m done with you.

Di kampung gue masih ada Posyandu. Minggu depannya, kebetulan jadwal Posyandu buka, trus anak gue disuntik BCG. Bolehlah, menurut gue. Tapi tinggal 1 yang belum, Polio. Gue tanya ke ibu mertua, dia yang nggak tau apa-apa soal jadwal baru, maksain kalo Polio baru dikasih pas 2 bulan (DPT+Polio). Mungkin aja emang begitu, tapi gue pengen imunisasinya sesuai jadwal aja, biar enak ikutinnya. Karena beda pendapat dan pengetahuan, kita saling-saling maksa kehendak. Jadilah gue maksain pengen ketemu si mantri yang kasih imunisasi untuk dateng ke rumah kasih Polio. Untungnya si mantri baik hati dan ramah. Besoknya dia dateng, dan akhirnya anak gue udah dapet lengkap: Hepatitis B 1, BCG, Polio.

(bersambung)

Entry filed under: hari ini. Tags: .

Paska Melahirkan (Bagian 4) New Start

2 Comments Add your own

  • 1. winda  |  March 19, 2012 at 9:20 am

    Menurut mbak sebenarnya apa guna imunisasi??
    toh yg imunisasi sama yg ga sama2 bisa kena cacar, hepatitis, tb wlpun sudah diimunisasi.
    Ada yg tersirat dibalik kata2nya prof S, knp beliau ga mau kasih imunisasi anak mbak.
    Mungkin hehe^^

    Reply
  • 2. wiwiadiwibowo  |  June 3, 2013 at 1:21 am

    imunisasi memang masih kontrofersi hingga saat ini. namun kebijakan orang tua lah yang paling menentukan.

    gimana anaknya sehat sampai sekarang setelah mendapat imunisasi lengkap?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”

%d bloggers like this: