Perpanjang SIM A di Bogor

Aaah, gak kerasa ini udah yang kedua kalinya gue perpanjang SIM…. Yang berartiiii gue udah nambah 10 tahun dari waktu gue punya SIM umur 17 tahun dulu. Hyaaaa… I’m getting old.

Begini pengalaman gue bikin SIM, well sebenernya I’m doing it right now while waiying for the photo session.

Gue datang jam 10.40, ke loket pertama di Polres Kota Bogor (arah ke Kedung Halang dari Warung Jambu, sebelah kiri jalan). Udah jelas-jelas yah, tuh loket namanya: Loket Pendaftaran SIM, tapi pas gue ngasih KTP sama SIM asli gue, gue malah disuruh ke sono-kesini dulu (beli map kuning – perpanjang SIM), foto kopi KTP (ya emang belum foto kopi sih, cek kesehatan, beli asuransi pengemudi, trus bayar pembuatan SIM). Pengarahannya juga nggak jelas, “Ke sana ya, Mba.”.

Jadi, intinya:
1. Siapkan SIM asli dan 1 lembar foto kopi KTP dan beli map kuning dari rumah aja juga bisa,
2. Langsung ke belakang Polres, ke tempat Praktek dokter untuk tes kesehatan, walaupun nggak ada dokternya, cuma ada ‘suster’, atau kayaknya orang biasa juga bisa kok, haha…. Di cek tensi, buta warna ato nggak, tinggi dan berat badan, trus bayar 20ribu. Trus ditawarin asuransi pengemudi seharga 30ribu yang valid selama 5 tahun, tapi cuma bayar sekali, dan bisa claim 400ribu untuk perawatan inap, 4 juta untuk meninggal dunia, dan 4 juta untuk cacat tetap,
3. Ke loket pembayaran SIM, bayar 80ribu,
4. Ke loket Pendaftaran SIM untuk kasih semua berkas di map, trus tunggu dipanggil,
5. Setelah dipanggil, ke ruang ujian, tapi untuk isi formulir aja, kalo udah, map-nya akan ditulisin nomor antri foto,
6. Tunggu dipanggil untuk foto, rapiin rambut, baju, make up,
7. Setelah foto, tunggu nggak nyampe 5 menit (suwer cepet juga), trus ambil SIM barunya deh.

Kalo mo perpanjang SIM, cuti setengah hari juga bisa deh….

Sekian dan terima kasih.

July 18, 2013 at 4:53 am Leave a comment

Come Home Late

Starting today I will post about the craziest thing happens in my life on that day. Today it’s about coming home late at 5.45 pm.

So my boss has agreed to give me a 3 days leave starting tomorrow until Monday. So this is my last day to finish my pending cases plus today’s cases. My total pending cases were around 10 plus 19. Today, my supervisor allocated me with another 25 cases. While, generally I finish only 25-28 cases. Awww… But in some circumstances in the past, I could finish up to 30-40 cases a day. But it only happened only like 2-3 times in my life.

This morning I finished those 19 cases just for 3,5 hours. Then I checked email for any incoming additional infos for my cases, then after lunch, I was going after the other 10 cases, then started to process the new cases. At 4 pm, the Time when normal people go home, I stayed late with other 2 friends until 5 pm. My Manager checked my untouched cases and helped me with some of them. Wew…. It’s not a good thing, I guess… Well she is very helpful, but your Manager helping you do your job??? I must be the one who is helping the boss. Well, my office is kinda different, and my boss is specially different. She is very helpful in anything. Plus, very wise (that is what I adore about her). She ended up staying late with me until 5.45pm. She said she didn’t want me to get stressed because of my pending cases. Damn, she’s really nice.

I was hoping that I still can do final check to my pending cases, leave notes to their databases, and whatever that makes me comfortable before I leave my desk for the Next 3 working days. Well, she was already standing there waiting for me to go home, so I packed up my stuff and left.

Why this is crazy is because, it’s been almost a year that I don’t do overtime after 5 pm, that my boss is a great boss and yes I would overtime if I want to have a leave tomorrow.

July 17, 2013 at 11:19 am Leave a comment

Birthday post

Happy 27. Wow I just realised that number is my favorite one, two and seven, just because I was born on day 2 month 7. Then this post must be one of the most meaningful writings of mine in my entire blogging history.

Well I’m writing this one in a train while listening to Fireflies by Owl City. It’s been a 27 years of happiness, sadness, and a joyful life. I’m thanking God for what I am before and now. I’m thanking God for what I had before and I have today. I’m thanking God for my failures and my victories.

So, overall, it’s a great simple life. I don’t have to be Mandela, Catherine Duchess of Cambridge, Pope Francis, or Megawati. But I’m happy to be only a wife and a mum.

I still have a bunch of things to do in my life, and I guess my ‘to do before I die’ list just getting longer, not shorter, which means I haven’t done anything in my life…. Hahahaha….

I am wishing my life to be wiser as wife, mother, daughter and friend. I am wishing that God would bless my Family more this year, with health and happiness in each heart. I am wishing that I will keep blogging until I die (well that’s creepy). At least until I started to think that I’m too old or too sick to write something. And I wish that everyone who reads my blog gets the same blessing.

Thank you guys.

July 2, 2013 at 12:27 pm Leave a comment

Bali Trip July 2013 – Persiapan Perjalanan

Gue udah nikah 2 tahunan, udah punya anak hampir 2 tahun, tapi belom pernah honeymoon, jalan-jalan sih pernah tapi cuma pulang kampung karena emang ada keperluan keluarga. So… saatnya gue merencanakan perjalanan hepi-hepi pertama keluarga gue. Tujuan kali ini adalah ke Bali, dengan pertimbangan:
– Suami gue belom pernah ke sono
– Gue udah pernah ke sono, dan jadinya udah tau dikit-dikit (nggak bakal buta-buta amat)
– I love that place, my first visit was unforgetable
– Masih ada banyak tempat yang belom gue kunjungi waktu 10 hari di sana tahun 2009 (segitu udah 10 hari, tapi belom semua… huaaah).

Okeh, jadinya, rencana kali ini seperti ini:
– Total pax: 2 dewasa, 1 anak kecil (2 tahun)
– Asal: Bogor, Tujuan: Bali
– Transportasi: Pesawat, mobil sewaan, mungkin motor, speed boat
– Akomodasi: Rp. 200ribu – Rp. 600ribu
– Tujuan di Bali: Sightseeing di Kuta dan sekeliling, Jimbaran, Tanah Lot, Nusa Dua, Kintamani, Besakih, Nusa Lembongan (kalau bisa sih snorkeling)

Ini yang lebih detailnya:

Transportasi Antar Propinsi
Gue beli tiketnya dari bulan Maret 2013. Totalnya Rp. 2,6jutaan, pake Air Asia. Itu udah termasuk tiket pergi, tiket pulang, asuransi perjalanan, bagasi 15 kg/pax/flight, sama kursi pesawat. Air Asia emang rese, detailnya banyak banget. Harga 200 ribu sebenernya totalnya 400ribu. Gue sih emang sengaja pake asuransi perjalanan, gara-gara minggu sebelumnya ada pesawat Lion Air dari Bandung ke Bali malah landing di laut. Cyape deh.

Teman-teman yang kucinta, sebenernya sih gue rasa nggak pake asuransi perjalanan kagak apa-apa, karena bagasi Lion Air gue aja di ganti, dan yang kecelakaan pesawat pasti diganti materi oleh pesawat walaupun nggak pake asuransi. Tapi, gue rasa, ini buat lebih formalnya dan gue bisa nuntut lebih jelas, daripada kalo beneran terjadi apa-apa (tapi gue selamat), gue bisa cerewet di media dengan jelas.

Okeh, transportasi antar propinsi beres.

Transportasi Dalam Kota dan Antar Pulau
Untuk rental mobil di dalam Bali, gue googling dan dapat Bali Mutia Rental Car, menurut gue sih itu udah yang paling murah di antara hasil penelitian gue dengan rental car lainnya. Harganya gue dapet Rp. 160ribu/hari untuk Suzuki Karimun Estillo. Mungkin kalo gue dapet Feroza lebih murah. Gue udah e-mail ke orangnya dan udah confirm, walaupun dia belum bilang tentang cara pembayaran, tapi gue udah kasih ke dia foto kopi KTP dan SIM, sesuai permintaan. Gue tadinya mo pake 3 hari, dan gue minta diskon, tapi nggak dikasih tuh, mungkin karena emang udah murah. Infonya sih, hitungan perjamnya itu Rp. 15ribu. Btw, kalo pas baru nyampe di Balinya sendiri, gue bakalan pake taksi Blue Bird aja.

Nah, rencananya kan gue mo ke Nusa Lembongan juga. Itu pulang yang nggak terlalu jauh dari sebelah timur Sanur. Nah, untuk yang ini gue cari info tentang aktifitas, transportasi dan akomodasi lewat wikitravel.com (cari aja Nusa Lembongan). Infonya lumayan lengkap buat gue. Kalau Rocky fast cruise sama Scoot Cruise itu gue rasa cuma untuk kalangan berduit yang lagi liburan, nah gue kan yang budget transportation aja. Pilihannya ada Public Speed Boat (Rp. 50ribu/orang) yang bisa turun di Mushroom Bay dan Jungut Batu, Seahorse Speed Boat (Rp. 50ribu/orang, yang punya orang Bali dan baik loh, penginapan punya dia ada 2 di Lembongan: Victory Shine & Indos Diver) yang cuma ada pilihan ke Mushroom Bay. Gue teleponan sama yang punya Seahorse Speed Boat, jadwalnya ada yang jam 1.30pm ke Mushroom Bay. Tapi akhirnya gue milih naik Public Speed Boat aja jam 12.30pm ke Jungut Batu, karena penginapan gue entar di sana. Untuk baliknya, gue belom tahu, entar pesen tiket dari sana aja. Gue juga telepon ke tempat penginapan gue di Lembongan, ditawarin transport pake Sugriwa Speed Boat, tapi mahal booo Rp. 200ribuan. No thanks, deh, mana nggak ada harga domestik.

Kalo udah di Nusa Lembongan, gue tinggal nyewa Rp. 50ribu. Tersedia di penginapan gue entar, berdasarkan konfirmasi dia di telepon.

Okeh, jadi, transportasi udah beres. 

Akomodasi
Malam pertama, gue dapet dari Booking.com, penginapan Kupu Kupu 39 di Kuta yang dekat dari Bandara. Harganya cuma Rp. 200ribu, udah AC. Daru fotonya sih bagus, mudah-mudahan aslinya nggak mengecewakan.

Malam kedua, gue ke Sanur, dan gue dapet dari Booking.com lagi penginapan bintang 2 kalo nggak salah, Abian Kokoro, harganya Rp. 288ribu. Ke pantai sih, kalo liat di Google Map keliatannya nggak jauh-jauh amat yak.

Kedua hotel di atas kalo gue cancel sebelum 7 hari sebelum menginap, nggak ada cancellation fee.

Malam ketiga, gue udah di Nusa Lembongan. Setelah dapet info dari wikitravel dan trip advisor di mana komentarnya bagus-bagus semua, gue milih Pacific Inn yang ada di Jungut Batu, harganya Rp. 300ribu dan yang punya udah konfirmasi ke gue juga lewat e-mail kalo gue bisa dapet kamar satu-satunya yang menghadap ke laut, cihuuuuy…. Ini bakalan gue bikin surprise ke suami gue, gara-gara sebelumnya dia request nginep di hotel yang langsung ngadep ke laut (waktu itu gue langsung bilang nggak, karena mahal-mahal semua). Kata pak Nyoman (sebenernya gue lupa antara Nyoman, Ketut ato Wayan, karena setiap gue nelpon ke Bali, namanya itu-itu doang, hihi), harga kamar segitu yang pake AC ya yang di depan menghadap ke laut itu. Oke deh, Paaak… I like your style, Pak.

Malam keempat, udah balik di Bali, nginep di hotel paling mahal seperjalanan ini: Hotel Santika di Siligita, Nusa Dua. Harganya Rp. 600.000,- setelah dengan segenap kerendahan hati gue minta diskon ke bagian reservasinya. Seharusnya, harganya sekitar 700 ato 800an gitu deh. Thanks to Santikaaaa! Hehehe… Karena ni hotel mahal, dan ini malam terakhir, gue sekeluarga nggak bakal beraktifitas banyak di luar, tapi istirahat dan enjoy kolam renang hotel.

FYI, sebenernya gue pernah pesen hotel Best Western Kuta Bali dari Booking.com seharga cuma Rp. 218ribuan. Murah gila, tapi ternyata batal karena promo itu kesalahan website. Sebel deh, tapi gue seneng karena pihak Hotel dan website konfirmasi by e-mail dan telepon ke gue langsung, that’s so professional.

Okeh, akomodasi beres juga. 

Aktifitas
Hari pertama, masih di Bogor, perpanjang SIM dulu, hehe. Trus berangkat dari Jakarta ke Bali malam-malam. Langsung nyampe kamar, molor. Pasti anak gue kecapean banget deh.

Hari kedua, langsung menuju Sukawati belanje-belanje, karena rencananya gue nggak mo bawa banyak baju dari rumah. Lagipula di Sukawati bisa nawar ampe 10ribu (pengalaman tahun 2009). Habis itu mo ke Pura Besakih (the mother temple, katanye), trus lanjut ke Kintamani karena di situ pemandangannya kueren, dan pengen foto yang banyaaak. Hiks, tapi pasti nggak ke Trunyan lagi. Kabarnya, perahunya mahal. Habis dari Kintamani, bakalan langsung ke Tanah Lot untuk ngeliat matahari terbenam, dan cari makan di sana kalau ada yang murah. Nah, malamnya nginep di Sanur.

Hari ketiga, udah di Sanur, ya lihat matahari terbit di sanalah, kalo bisa sambil berkano-ria. Tapi gue bakalan bingung gimana anak gue mo berkano, secara dia masih kecil, tapi gue mo main kano juga, tapi anak gue nggak mungkin gue tinggalin sendiri di pantai. Tapi kalo gue suruh suami gue yang jagain anak, gue juga nggak mau gue sendirian main kano di laut. Tapi yang pasti, pagi ini gue bakal beli tiket speed boat untuk siang nanti. Hmmm… Ya gitu deh. Siangnya gue bakal ke gereja dulu, dan langsung ke Sanur lagi, ngejar speed boat ke Nusa Lembongan. Kalo udah nyampe Nusa Lembongan, entar terserah mood di sana aja dan apakah gue dapet perahu untuk snorkeling yang murah. Kalo dapet perahu untuk snorkeling cuma maks 300ribu plus peralatan snorkeling berdua, mungkin ya snorkeling 2 jam-an. Kalo nggak, gue bakal nyusurin pulau aja, cuma 6sqm kok. Kecil. Paling ke Dream beach, Sunset beach, mushroom beach, seaweed farm di selatan, dll (entar gue mo nyari lagi, dan gue akan print infonya dari wikitravel). Malamnya have fun aja di pulau. Btw, FYI, di pulau ini musti bawa uang Cash! Karena cuma ada 1 ATM BNI dan kalo bayar pake kartu kredit, bakal di charge sampe 8% katanya.

Hari keempat, pagi-pagi banget, katanya sih asik liatin sunrise di jembatan ke pulau Ceningan. So, I will be there, dude. Dan mungkin akan mampir ke Ceningan bentar. Trus balik lagi ke hotel, siap-siap balik ke Bali jam 8 pagi, paling lambat jam 10 pagi. Nah, kalo udah nyampe Bali lagi, gue bakal ke Ubud, Legian, Kuta, Jimbaran, check in di Hotel Santika, istirahat, mandi, (kalo sempat ke Dreamland ato Padang-padang beach ato geger beach), trus ke Pura Uluwatu dan nonton Kecak di Uluwatu! Yay… I can’t wait for this. Katanya sih tiket nontonnya Rp. 70ribu/orang. Setelah itu gue rencana harus makan dipinggir pantai (mungkin Jimbaran). Dinner ini gue bakal nyiapin Rp. 250ribu maksimal untuk suami gue makan ikan.

Hari kelima, pagi subuh gue bakal ke BDTC (ini tempat sederhana tapi unforgetable dari perjalan gue tahun 2009) karena tempatnya itu di batu karang yang ombaknya terpancar-pancar keren, dan kita bakal ngeliat matahari terbit di sana… Trus, ke GWK deh. Musti pagi-pagi juga, karena seingat gue, kalo jam 6, kagak bakal bayar tiket. Haha. Nah, (maksimal) jam 7.30 harus udah sampe di hotel lagi buat makan pagi, istirahat, berenang, siap-siap pulang ke bandara. Jam 11 siangnya gue bakalan udah nyampe di bandara untuk balik ke Jakarta.

Okeh, jadwal perjalanan udah beres juga.

Budget
Setelah gue itung-itung di MS Excel, total biaya yang harus gue keluarin untuk perjalanan bertiga, 5 hari 4 malam, akomodasi yang nggak ada numpang sama temen/sudara, adalah Rp. 6,6 juta. Berarti rata-rata per harinya Rp 1,37 juta. Total yang bisa gue bayar pake kartu kredit di sana sekitar 1,1 juta aja untuk akomodasi, total yang udah di bayar sebelum keberangkatan (pesawat) adalah Rp. 2,6 juta, dan berarti gue harus bawa cash nanti sekitar 2,8 juta. 

Okeh, budget udah keliatan berapa. Beres juga.

Okeh, kawan-kawan semua… sekian persiapan perjalanan gue. Tapi, gue masih akan mempersiapkan lagi seperti:

– Print peta Bali dan Nusa Lembongan, versi simple-nya
– Print rute perjalanan sesuai info directionGoogle Map
– 
Konfirmasi reservasi gue di Abian Kokoro dan perubahan rencana rental mobil karena gue bakal ke Nusa Lembongan dan nggak butuh mobil.

Yan pasti… I can’t wait for this trip!

Wish me good luck.

June 15, 2013 at 1:12 pm Leave a comment

Warm Bodies

Well, I just watched this drama-action-thriller movie which brings me more alive and inspired… halah… This movie is a fresh twist on the zombie genre.

Yeah, I mean it. Eventhough I was a little bit lost in the middle of the movie, because there’s an… umm… how do I say it… there’s an unclear purpose and message of why and where “R” and Julie ran from and to, when they just told Julie’s father that “R” was different from other zombies. Then they ran… but they ran to the bones? Yeah, I knew because they were being chased by her father’s army and there were the bones that chasing them too… But… I was just disconnected with the scene.

But I love this movie because it’s a new idea of making a love story through a zombie movie. Haha, I like it. Zombie movies are all about zombie eating people, people bleeding and dying, (cool) people killing zombie and always won. There’s always a far gap between human and zombie. We are alive, and they are dead. They are totally infected and dead. But in this movie, the filmmaker wanted to tell us that their zombies were just a bunch of people that were infected by something in the past… yes, their hearts stop beating which means they’re dead, but… they could be cured… by LOVE.

Haha.. it’s so funny.

I like the message of the story, until I forgot to tell the synopsis of the movie. So here for you:

“R” is a zombie. He’s dead. He’s pale. He’s the main actor. And the good thing is… he’s not that cute, like other main actor. But he is able to think like what living people do. He has his own place and has a good friend. And hell yeah… main actors (R and his friend) do not look like zombies in general. Their make up are simplified, just to tell the audience that they are innocuous.

In the other part of the world, Julie and her friends, including the cute boyfriend (yeah, he’s cuter than “R”) were delegated by Julie’s father to go outside the border to get medicines.

R and friends went for feeding time and there he met Julie at the drugstore near the border. Killing between zombie and human occurred. Love at first sight also happened. R saw Julie with her guns, she was so cool, he thought. And that is the beginning of the story.

Oooh… how I want to watch the movie again tomorrow if I get the chance… haha… I like drama movies, comparing to my previous life at high school and university, I always preferred to watch action and war movies.

But I think I’m just gonna buy the DVD, anyway.

March 3, 2013 at 10:54 am Leave a comment

Another Train Seat Story

Well this is the second time ‘treat’ me like this. You should be ashame, girl.

Jadi, gue berada di kereta gerbong wanita. Seperti ratusan wanita lainnya gue menunggu ada yang mau berdiri karena mereka mau turun dari kereta. Nah, di depan gue ada 4 wanita muda berjilbab. Gue berharap yang pas duduk di depan gue mau turun di Depok atau Depok baru, lah, seenggaknya. Walaupun dia nggak turun di Depok, dia turun di Citayam. Gue yang lagi baca koran otomatis bersiap-siap mau duduk. Tapi apa daya, setelah gue menggeserkan kaki gue, cewek berjilbab yg duduk di sebelah cewek yang tadi turun, bergeser dan nawarin duduk ke cewek berjilbab yang berdiri di sebelah gue. Jelas-jelas itu ‘jatah’ duduk gue. Dan cewek yang ditawarin tadi juga otomatis mau-mau aja. Padahal udah jelas juga, gue yg duluan naik kereta dari dia. Sudah jelas juga, cewek yang duduk dan cewek yg ditawarin bangku nggak saling kenal, mending kalo emang temenan.

 

Maka itu gue langsung bertanya dalam hati, apakah gue nggak ditawarin tempat duduk karena gue nggak berjilbab? What’s the point, gitu? Apakah dengan memberikan tempat duduk kepada sesama orang berjilbab akan mempermudah jalan ke surga nanti?

 

Mengapa sebagian orang masih membeda-bedakan, sementara orang lain sudah berBhineka Tunggal Ika, termasuk dalam hal agama?

 

Gue merasa percuma bantuin membela hak (apalagi sesama wanita) kalau ada orang yang nyelak waktu ngantri bayar di Giant, ato antri beli tiket kereta. It’s not worthed when you finally treated like that.

January 21, 2013 at 11:16 am Leave a comment

The Train Seat

Well this just happened a minute ago.

I was in a train with mum from Jakarta to Bogor. Mum just got a seat from a woman who recently alighted from the train. My mum notice that another woman was going to stand up from her seat, too, so she offered me to seat beside her even only a 1/4 area of my butt will be seated. Haha. I said “No thanks. It is a little bit achy to sit that way.” I just hoping that the woman would get off soon and I would take over the seat. After 15 seconds, she called a woman a the next 1 person after me, “Ma’am, here take my seat.” She joyfully moved from her position and sit there. I said What the Fuck?

Tell my why did you gave it to her? Because she was “one of you”? I know they’re not together (not friends). But I just wondering why on earth did she do that? I was tired, too, and need a seat.

 

 

January 9, 2013 at 10:20 am Leave a comment

Older Posts Newer Posts


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”