Posts tagged ‘green’

Koal

Kira-kira 8 tahun lalu gue ke Lembang sama kakak gue. Malam itu gue dan temen-temen lagi jalan. Udaranya dingiiin banget, dan sialnya gue lagi gak bawa jaket. Gue ampe menggigil gitu.

Minggu lalu, gue dateng ke sana lagi. Jam 9 malam gue masih di luar tanpa jaket, gue merasa biasa aja… cuma lebih sejuk dikit dari Bogor. Serasa lagi di Puncak… Hmmm, yaaa.. Puncak… Tapi setelah gue pikir lebih lama…. Oh, no!!! Seharusnya Lembang jauuuh lebih dingin dari Puncak. Pemanasan global neh, kata gue dalam hati. “Soalnya listrik di sini udah di mana-mana,” begitu kata Om gue.

Hmmm. Listrik. Yup, listrik bikin panas ajah. But why? how?

Nah, gue pernah dapet artikel bagus neh tentang penggunaan listrik dan hubungannya dengan pemanasan global. Tapi, artikelnya lagi entah di mana sejak gue pindahan kost.

Ni aja deh, seinget gue… Siapa tahu bermanfaat buat yang baca.

Sering banget kita dapet nasehat supaya selalu menghemat listrik dengan mematikan lampu kalo ruangannya dah gak kepake, lepas chargeran handphone kalo udah beres nge-charge, dll. Pertanyaannaya, kenapaaa?? Apa hubungannya matiin chargeran handphone sama mencegah pemanasan global? Wong cuma satu charger handphone kok?

Jawabannyaaaa (macam Missing Lyrics):

Pertama, berdasarkan ilmu yang gue dapet di kampus… barang elektronik yang dipasang terus menerus akan mengalami apa yang disebut ‘disipasi daya’. Ato bahasa lainnya, ‘listrik yang kebuang-buang’. Efek sampingnya: Chargeran loe jadi panas, baterai HP loe kalo nempel terus di chargeran bakal jadi boros dan cepet rusak, juga tagihan listrik loe akan berlebih (biarpun cuma beberapa rupiah).

Kedua, sumber tenaga listrik itu dari pembakaran coal. Coal itu adalah suatu jenis batu-batuan yang di dalam batu itu sendiri terdapat energi listrik. Karbon yang terdapat di coal tersebut menjadi sumber utama energi itu. Dan energi tersebut baru akan keluar kalo coal dibakar (teachcoal.com). Setelah dibakar, barulah jadi yang namanya Listrik yang kita pakai dikehidupan kita sehari-hari. Wherever, whenever.

Saking murahnya, coal selalu dipakai sebagai pembangkit tenaga listrik. Tapi, saking banyaknya dipake, emisi coal yang kebuang di udara udah mencapai 20% dari semua greenhouse gases.

Naaaaah… parahnya lagi, hasil-hasil dari pembakaran coal (juga gas-gas karbon lain) yang kebuang di udara sekarang itu gak akan hilang sampai beratus-ratus tahun dari sekarang. Sampe gue punya cucu dan cicit juga, tu gas-gas belom hilang juga. Makanya sekarang lagi digencar-gencarin (setidaknya) pencegahan penyebab penebalan atmosfer dari greenhouse gasses dengan cara menghemat listrik.

So you know now.

Baca Coal and Cilmate Change Facts.

Advertisements

May 29, 2009 at 1:02 am Leave a comment

Pemanazan Globalz

Global warming. Global warming. Global warming.

Biarpun udah sering disebut-sebut, apa kalian udah beneran kenapa namanya ‘pemanasan global’? Terdiri dari dua kata; Panas dan global. Yang arti singkatnya, ‘panas di mana-mana loe ada’.

Pemanasan global ini terjadi kira-kira begini:
Matahari sebagai sumber panas utama kita, tiap hari dengan baiknya ngirimin panas ke bumi. Panas ini baik, karena dengan begitu Bumi bisa hidup; tanaman bisa berfotosintesis (baca: ‘masak’), dan manusia bisa beraktifitas. Panas matahari ini masuk ke Bumi, dan keluar lagi ke angkasa raya. Mereka cuma ‘mampir’ doang, just wanna say hello. Tapi ada juga sebagian dari panas itu yang tetap tinggal di Bumi.

The Sun and Earth

Untuk mencegah panas berlebih, Bumi punya atmosfer yang jadi ‘firewall’ untuk perlindungan semua kehidupan di dalamnya terhadap apa saja yang berasal dari luar planet.

Nah.. kita zoom-in ke planet Bumi, manusia yang kehidupannya makin modern ini, dengan segala teknologi mutakhir terkini, ide-ide brilian, dan gaya hidupnya, membuat atmosfer Bumi ini jadi tebal dengan apa yang disebut dengan greenhouse gases (gas-gas karbon dioksida and the gank). Gas-gas ini berasal dari pembakaran coal, asap-asap pabrik, pembakaran hutan, dan masih banyak lagi.

Gas-gas ini berbahaya karena ketika mereka sampai di atmosfer Bumi, mereka diam di situ dan ‘menyumbat’ atmosfer, sampe-sampe panas matahari yang tadinya cuma ‘mampir’ doang, eeeh, gak bisa keluar lagi. Dan hal ini sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Bayangin udah berapa banyak gas karbon dioksida yang kebuang di udara sekarang – kalo kita ngitung berapa ratus ribu pabrik yang ada di dunia ini, berapa ratus juta kendaraan bermotor yang dipake setiap harinya, dan berapa banyak listrik yang kita pake setiap jamnya… dll.

May 29, 2009 at 12:28 am Leave a comment


“I've learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it.”